Skip to main content

Menari Bersama Sigmund Freud

 


Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya.

Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini, 

Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya.

Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita.

Berangkat dari kategori "Alam Bawah Sadar" yang diisi oleh Supriko S., hingga "Antara Mimpi dan Pemahaman Diri" yang diracik oleh Somad Trengku Rengginang, buku ini memaparkan ragam tema psikologis dengan pendalaman yang luar biasa. 

Setiap bagian, seperti lapisan kompleks psikologi manusia, membawa pembaca melalui perjalanan emosional yang kaya makna.

Penulis-penulis seperti Siti Ofmenceste, Radiohed Napitupulu, Nona Garing Sari, Jempol Singgih Pangestu, Gendut Sakti Pratama, Nasi Goreng Santai, Terong Permatasari, Kembanggula Wijayanti, Novelita Novelitus, Rindu Sujatmiko, Arifin Keluhkesah, Andri Mandra Dukuhwaluh, dan Tukiyem Angelista, serta Somad Trengku Rengginang, masing-masing membawa warna dan nuansa yang unik pada karyanya.

Dalam setiap bait puisi, pembaca diajak menelusuri kompleksitas pikiran, perasaan, dan konflik yang mewarnai perjalanan kehidupan. Ada keindahan tersendiri ketika kata-kata menjelma menjadi lukisan-lukisan kata yang menggambarkan perjalanan jiwa yang tersembunyi.

Semoga buku ini tidak hanya menjadi sekadar kumpulan puisi, melainkan juga menjadi perjalanan batin pembaca untuk menemukan dan memahami diri sendiri. 

Mari bersama-sama menari di atas panggung kata-kata, menyusuri lorong-lorong gelap dalam jiwa, dan merasakan setiap dentingan nada emosi yang terpahat indah dalam karya-karya ini.

Akhir kata, buku ini merupakan karya novel pertama penulis, tentu banyak sekali kekurangan dalam penulisan dan penyusunannya. Selamat menikmati dan menari bersama Sigmund Freud dalam alun puisi psikologi yang mungkin agak mempesona. 



Purwokerto, Februari 2024

Penulis,


Dimas Rahman Rizqian


Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-