Skip to main content

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir



Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir. Kalimat itu bukan keluhan individu, melainkan potret sebuah zaman. Suatu kondisi ketika keberadaan yang diukur terutama dari kegunaannya, dan kehidupan yang diukur dari seberapa lancar roda sosial dapat terus berputar. Dalam tatanan seperti ini, berhenti berpikir tidak dianggap perlu, melainkan mengganggu.

Masyarakat modern bergerak dengan efisiensi logika. Setiap orang Ditempatkan dalam peran, setiap peran menuntut kinerja, dan setiap kinerja harus terlihat. Pertanyaan tentang makna tidak masuk dalam laporan, tidak tercatat dalam grafik, dan tidak memberi kontribusi langsung pada hasil.

Maka berpikir menjadi aktivitas yang tak produktif—sesuatu yang dapat ditunda tanpa konsekuensi yang tampak.

Dalam situasi itu, manusia belajar hidup secara fungsional. Bangun tepat waktu, menjalankan tugas, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya keesokan harinya. Kehidupan berjalan sebagai rangkaian prosedur yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan. Namun dibalik keteraturan tersebut, kesadaran perlahan dipinggirkan. Bukan karena dilarang, melainkan karena tidak dibutuhkan.

Kamalangan muncul bukan ketika sistem gagal, tetapi justru ketika sistem bekerja dengan terlalu baik. Rutinitas yang stabil menciptakan ilusi kewajaran, sementara pertanyaan-pertanyaan mendasar kehilangan tempatnya. Merenung tidak lagi hadir sebagai kebutuhan eksistensial, melainkan sebagai gangguan ritme. Dunia tidak runtuh karena ketiadaan makna; dunia tetap berjalan tanpanya.

Di dalamnya absurditas menemukan bentuk yang paling tenang. Hasrat manusia untuk memahami dihadapkan dengan struktur kehidupan yang hanya meminta kelancaran. Keheningan digantikan oleh kesibukan, jeda oleh target, dan kesadaran oleh kebiasaan. Hidup terus berlangsung, tetapi tanpa jeda untuk benar-benar disadari.

Namun ketegangan ini tidak selalu meledak. Dalam sebagian besar waktu, ketegangan tersebut hanya mereda. Ia muncul sebagai kelelahan yang sulit dijelaskan, sebagai kejenuhan tanpa sebab yang jelas, atau sebagai perasaan asing terhadap kehidupan yang dijalani sendiri. Semua tetap berjalan sebagaimana mestinya, tetapi ada sesuatu yang tertinggal.

Maka ketika hidup menuntut fungsi sebelum perenungan, yang tampak bukan tragedi besar, melainkan kehilangan yang nyaris tak terlihat. Bukan kehancuran, melainkan pengikisan perlahan terhadap kesadaran. Dan justru karena berlangsung diam-diam, kamalangan itu jarang disadari sebagai masalah.

Hidup terus berjalan. Sistem tetap berdiri.
Yang absen hanyalah ruang untuk bertanya—apakah semua ini sungguh perlu dipercepat sedemikian rupa.







Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...