Skip to main content

Mengalami Diri (14)

September 2021, nyaris selesai. Memberi penanda pada produktivitas saya dalam menulis, mengalami penurunan. Beberapa alasan yang mendasarinya ialah, perubahan aktivitas. Namun, pokok penyangkalannya yakni "kepahaman diri bahwa diri ini belum sepenuhnya paham."


Pada sebagain kasus, "mengetahui bahwa saya tidak tahu" itu bagus. Bahkan, ilmu tertua di dunia (baca: filsafat), mengatakan demikian. Konon Socrates, "puncak pengetahuan adalah tidak tahu". Pemahaman akan hal tersebut, begitu penting. Tetapi, agaknya penting pula untuk selalu mengalami elaborasi dan evaluasi, menyesuaikan berkembangnya diri.


Mengetahui bahwa diri tidak tahu, semoga kita sudah paham akan hal itu. Bahwa sangat berbeda, namun sangat tipis dengan apa itu kealpaan pengetahuan. Mudah-mudahan semua saling mengerti, mana yang konotasi dan mana yang denotasi.


Nun, pada akhirnya 'kuda-kuda' mengerti bahwa diri tidak mengerti ini, pada sisi lainnya berkemungkinan mengalami kekacauan. Hal tersebut, justru malah membuat gagap untuk berbuat. Orang modern menyebutnya, "mental block". Mau ini ragu karena belum merasa paham, mau itu tidak jadi karena belum merasa bisa. Itulah, yang saya alami sekitar rentang 2 bulanan yang lalu, dalam konteks menulis.


Untungnya, beberapa orang terdekat tak bosannya mengingatkan, "yang benar-benar paham itu tidak pernah ada, toh man of the match pertandingan-pertandingan liga terbaik di dunia (baca: Inggris) tidak pernah paham, kalau dirinya benar-benar man of the match".


Jangan-jangan, selama ini kita sering memakan barang haram. Dalam artian, hal-hal yang seharusnya tidak kompatibel dengan diri kita, salah satunya ialah pengetahuan tentang suatu hal, malah kita kunyah seenaknya bahkan sampai keblendingen.


Memang, cocok atau tidaknya benar-benar super subjektif. Disinilah, berfikir menjadi pangkal fundamental untuk mendidik dan merawat diri, demi mengalami objektifikasi.


***Banyumas, 24 September 2021.


Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...