Skip to main content

Mengalami Diri (16)

Menghela nafas di tengah kegamangan, agaknya menjadi tema sentral dalam menapaki waktu akhir-akhir ini. Andaian atas "kegamangan", memberi sinyal tersendiri bagi pegangan yang beranjak tak adekuat.


Mencari ulang yang adekuat itu, bukanlah hal yang ringan. Apalagi alih-alih menemukan yang dituju, kadangkala yang ditemukan justru distraksi baru. Entah kenikmatan yang sama sekali baru, atau tujuan lama yang bersemi kembali.


Situasi gamang, kerap lebih membahayakan jika dibiarkan. Semacam gusar yang menggelayut diam, lambat laun meledak tak tentu tempat dan kapan. Barangkali, sesekali kita menjumpainya dalam rasa lelah tak berujung disaat istirahat sudah dirasa cukup. Juga rasa yang tak semenarik biasanya, lebih ke hambar.


Pencarian tidak ringan atas yang adekuat itu, kerapkali membingungkan pertautan isi hati dan kepala. Dilema tak berujung, pun kerumitan yang terlampau kompleks. Akibatnya, komplikasi hubungan jiwa dan raga menjadi kabut penutup.


Berjuang untuk keluar dari zona gelap gulita itu, sepertinya hanya laku spekulatif yang sementara ini optimal. Dalam artian, memotong lingkaran tapal batas kungkungan labirin kegamangan.


Namun, terdapat pilihan untuk misalnya tidak ber-laku spekulatif itu; memilih menikmati dan menyelami kegamangan, mungkin semacam perjudian baru. Seperti bertindak alamiah menyusuri keapadanyaan ritme dan tempo, mengalami evolusi kebosanan, kebingungan, stagnasi, hingga yang disebut sebagai kegamangan berkenalan kembali dengan kejelasan, renaissance.


Syahdan, apapun saja mesti diuji cobakan demi melihat sejauhmana X&Y, berirama. Sekurang-kurangnya, dapat memberikan penamaan baru untuk tiap-tiap variabel. Mana yang sekadar lamunan, mana yang benar-benar signifikan. 


***Banyumas, 5 Oktober 2021.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...