Skip to main content

Mengalami Diri (8)

Setelah sekian lama tanpa coretan di blog pribadi, agaknya kelelahan menuangkan ide dalam eksisten aksara, menuai sedikit kelegaan. Misalnya, atas arogansi truth claim; merasa benar. Pun, oleh karena pengalaman dan pengetahuan dalam diri yang kelewat krasan tak di uji.


Rentang jalan terlalui begitu saja, ada makna yang dipetik, ada pula kesia-siaan yang melulu tak berbekas. Adakalanya pula, yang bermakna dan yang sia-sia, bergandeng kelindan akrab bersamaan.


Terik siang, gelap malam, sunyi sore, sejuk pagi, menjadi hidangan tak terhindari dari adi kodrati yang Maha. Kita, titipan tak sepenuhnya sadar atas yang di titipi menjadi kosong dan hampa, oleh karena bias konstruksi akal berfikir. 


Lalu, bagaimana dengan ia? Mereka yang mungkin sangat sedikir tersentuh oleh wacana elitis, misalnya konsepsi "sebelum cahaya", atau semacam format "ode to my family", hingga keluasan yang memadat pada "bohemian rhapsody".


Barangkali, seisi alam hendak mengisi dari ruang-ruang kosong disana. Tanpa pretensi hendak mendahulukan atau mengakhirkan nasib, demi dan atas nama kelegaan batin oleh nestapanya.


Syahdan, kompatibilitas atas psychological well-being, beranjak menuai adil bagi mereka yang terpilih mendapat haru dari yang Maha. Kita, ada pada barisan yang mana? Aku dan Kau, apakah cukup untuk tetap adekuat mengarungi janji yang "konon", faktual memilihnya sendiri?


Abstraksi tak punya kelebihan selain kekurangan, dan tak memiliki kekurangan melainkan kelebihan, sepertinya dapat menjadi "kuda-kuda" mengalami diri yang prasasti. Alih-alih, tidak terseok-seok ditengah kelaliman materialitas.



***Cilacap, 14 Mei 2021.




Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...