Skip to main content

Mengalami Diri (9)

Syahdan, wacana tentang kedirian hampir selalu menarik perhatian setiap orang. Sekalipun, lahirnya akar social science lebih belakangan lahir ketimbang hulu natural science, sejak Socrates membawanya. Namun, agaknya tumbuh kembang atas pengamatan kedirian tak lekang oleh zaman, membumi antar generasi.


Banyak sekali method, untuk kemudian mendekati apa dan bagaimana kedirian ini. Mulai dari percakapan awam, hingga melibatkan refleksi yang menyeluruh dan radikal. Tetapi satu hal, garis bawah selalu hinggap pada "diri", yang tidak stagnan. 


Aspek-aspek yang terus berkelindan dalam kedirian ini, tak terelakan dari tiga prinsip dasar; biologis, sosiologis, serta psikologis. Diluar tiga hal tersebut, hanya termasuk pengayaan an sich; semacam ruang kosong atas rentang jalan perjalanan diri itu sendiri.


Pada akhirnya, kepahaman atas dinamika diri yang terjadi dibalik perilaku diri tersebut, menegaskan kembali bahwa kuasa atas diri seperti bagaimana yang akan menjadi persona, nyaris mutlak berada di space kendali.


Barangkali, kebijaksanaan dalam menempuh ilaihi roji'un, memerlukan kuda-kuda yang cukup, pada inna lillahi. Pun, sangat memiliki urgensitas bagi siapapun yang percaya atas yang awal dan yang akhir, untuk lebih sensitif atas pembedaan antara irisan limitasi dan free will.



***Cilacap, 19 Mei 2021.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir.  Kalimat itu bukan keluhan individu, melainkan potret sebuah zaman. Suatu kondisi ketika keberadaan yang diukur terutama dari kegunaannya, dan kehidupan yang diukur dari seberapa lancar roda sosial dapat terus berputar. Dalam tatanan seperti ini, berhenti berpikir tidak dianggap perlu, melainkan mengganggu. Masyarakat modern bergerak dengan efisiensi logika. Setiap orang Ditempatkan dalam peran, setiap peran menuntut kinerja, dan setiap kinerja harus terlihat. Pertanyaan tentang makna tidak masuk dalam laporan, tidak tercatat dalam grafik, dan tidak memberi kontribusi langsung pada hasil. Maka berpikir menjadi aktivitas yang tak produktif—sesuatu yang dapat ditunda tanpa konsekuensi yang tampak. Dalam situasi itu, manusia belajar hidup secara fungsional. Bangun tepat waktu, menjalankan tugas, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya keesokan harinya. Kehidupan berjalan sebagai rangkaian prosedur yang sah dan dapat dipertan...