Skip to main content

Mengalami Diri (11)

Juli, memasuki langkah keduanya. Kita, dan saya terutama, telah melewati dan mengalami sekaligus dari Juni, didalam Juni. Adapun perihal baik dan buruk, mesti bersanding dialektis. Sama, dalam derajat dikotomis, namun berbeda secara kemauan memberi perspektif.


Betapapun pedihnya realitas paceklik yang tengah sebagian besar manusia mengalami, tetap saja terkandung bagian-bagian manis. Walaupun, yang manis itu adalah menikmati resapan-resapan dari kepahitan. Memilih berdamai, sekalipun perang tak pernah usai.


Konon, kepedihan hanyalah bias kognitif atas peristiwa yang belum kita kuasai. Ketika sakit dipikirkan sebagai sakit, maka sakitlah. Namun, bias tersebut tidak selalu tepat. Misalnya, jika itu terjadi pada tuna makna, mereka yang tak punya kesadaran arti; meaningless.


Kembali lagi, kita terpaksa mengingat ulang atas makna-makna yang telah terlewati. Dari naik-turunnya hidup, hingga stagnasi yang kerap mensabotase nurani; hopeless.


Syahdan, setengah jalan ditahun ini, pasti telah semacam memupus harapan redanya pandemi, dengan meningginya angka-angka terpapar. Terlebih, mereka yang dibawah angka sejahtera, dengan penghidupan yang unpredictable.


Dari sana, semakin jelas terpampang, bahwa sehebat apapun kebudayaan, tidaklah mampu memastikan hari esok. He said; menyerahlah untuk menang.


***Cilacap, 2 Juli 2021.


Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...