Skip to main content

Belum Genap Manusia (9)

Tidak ada yang kentara dari mimik wajahnya, ketakutan atau keberanian, sekalipun wajah dalam sudut pandang tertentu merupakan jembatan untuk sampai pada sisi lain kedalaman jiwa.


Tatkala yang ia pengangi adalah peluang dan potensi, beserta probabilitas yang mengelilinginya, ia sama sekali tak bergeming sedikitpun dari upaya "duduk-duduk", menerungi rentang jalan, ber-refleksi ditengah nasib terus berjalan.


Apapun saja, adalah pengalaman menghidupi untuk hidup, hidup untuk menghidupi. Dari kerumunan ia diam, dari kesunyian ia berteriak-teriak. Sendiri dalam kebersamaan, bersama dalam kesendirian.


Syahdan, sekitaran hanyalah cipratan dari kuasa yang Maha. Ia pun sama, sekadar karunia yang tumbuh dari "mungkin" ketidaktahuan pengetahuan. Terlempar dalam senyap, mewedar dirinya sendiri dalam riuh-rendah peradaban.


Belum genap manusia, hanyalah permukaan ditengah kedalaman. Pembuka dari isi-isi yang memaknai makna, penutup dari pembuka-pembuka selanjutnya. Bukankah, genap tak kemudian berlawanan dengan ganjil?



***Cilacap, 15 April 2021.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...