Skip to main content

Ilmuwan Remang-Remang

Semua tradisi keilmuan dalam wilayah akademis maupun non akademis, memiliki sisi-sisi yang berjenjang. Hematnya, dimulai dari segala jenis "apa", beranjak ke beragam tema "mengapa", sampai pada derajat macam-macam "bagaimana".


Titik puncak kepuasan keilmuan seseorang, secara mayor berada dalam posisi kebergunaannya. Posisi kebergunaan tersebut, bisa yang berpihak pada "enak" mutual, atau sekadar enak "individual".


Akar perkembangan dan pertumbuhan keilmuan dalam kesejarahannya, arus besarnya berangkat dari keresahan psikis si pelaku (intrinsik). Tidak jarang pula, yang bermula dari keterpaksaan keadaan sosialnya (ekstrinsik).


Dalam menapaki jenjang-jenjang keilmuan, tidak jarang si pelaku menemui hambatan dan kendala. Misalnya hambatan, kepiawaian mentransformasikan bahasa dari isi kepala, ke tulisan diatas kertas, ataupun serangan distraksi alam berpikir, etc.


Sebagaimanapun canggihnya teknologi yang dimiliki manusia, ternyata tetap saja masih berlaku pepatah yang menyebutkan bahwa "memulai itu lebih sulit, dari pada melanjutkan". 


Syahdan, sadar tidak sadar, kemajuan dunia keilmuan peradaban manusia, mesti beriring sejalan dengan pelbagai distorsinya. Kadangpula, terjadi kondisi kejar-mengejar, sekaligus tarik-menarik dominasi.


Dalam kondisi semacam itu, mau tidak mau, menanamkan pada alam bawah sadar, bahwa "semua manusia adalah ilmuwan", barangkali bisa menjadi alternatif, tentu saja dengan tetap berpegang pada etika dasar. Sebab terlampau sering kita temui, ilmuwan-ilmuwan yang mengaku kredibel, padahal "pelacur" di remang-remang kenyataan.


***Banyumas, 22 September 2020.


Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir.  Kalimat itu bukan keluhan individu, melainkan potret sebuah zaman. Suatu kondisi ketika keberadaan yang diukur terutama dari kegunaannya, dan kehidupan yang diukur dari seberapa lancar roda sosial dapat terus berputar. Dalam tatanan seperti ini, berhenti berpikir tidak dianggap perlu, melainkan mengganggu. Masyarakat modern bergerak dengan efisiensi logika. Setiap orang Ditempatkan dalam peran, setiap peran menuntut kinerja, dan setiap kinerja harus terlihat. Pertanyaan tentang makna tidak masuk dalam laporan, tidak tercatat dalam grafik, dan tidak memberi kontribusi langsung pada hasil. Maka berpikir menjadi aktivitas yang tak produktif—sesuatu yang dapat ditunda tanpa konsekuensi yang tampak. Dalam situasi itu, manusia belajar hidup secara fungsional. Bangun tepat waktu, menjalankan tugas, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya keesokan harinya. Kehidupan berjalan sebagai rangkaian prosedur yang sah dan dapat dipertan...