Skip to main content

Ketegasan Simbol

Kelengkapan atas penjelasan pada suatu hal, mesti menyisakan ruang hampa makna. Sekalipun ada beberapa hal yang kemudian menjadi konsensus bersama, itu pun tetap tidak menangkap senyatanya presentasi kehendak. 


Manusia memiliki asumsi, pada permukaannya, kemudian ia mempunyai argumentasi pada tingkat kedalamannya. Sewaktu-waktu, asumsi dan argumentasi tersebut menjadi semacam cara berpikir, bila kriteria populis misalnya, telah dideklarasikan oleh batin per-individu.


Realitas dunia yang sudah terlampau mengglobal ini, dalam beberapa hal, terdapat kesulitan demi menemukan kategori tertepat untuk sebuah lingkar native manusia. Ketidakmudahan ini, cukup membuat hegemoni global, seperti penggunaan simbol bahasa, menjadi menjadi-jadi. 


Kini, alam raya manusia yang tengah dilanda krisis multidimensional, ditambah covid-19, memuat beban kesejarahan yang tidak mudah untuk di restorasi. Terlebih bagi manusia macam buruh, yang memuat sifat dependen.


Syahdan, "revolusi" yang tengah manusia hadapi sekarang ini, yang notabenya (mungkin) unpredictable, memerlukan sebuah narasi kongkret akan stabilitas peran. Jejak literer sesama, penting diulik kembali, bukan sebagai nostalgia an sich, namun bermaksud menuai pola baku dinamika hidup.


Salah satu hal yang mungkin terabaikan oleh manusia modern, adalah dibuangnya sisi kelekatan afeksi pada simbol tertentu, misalnya merah dan putih, jiwa dan raga, kata dan makna, fenomena dan neumena, covert dan overt, sugih dan kere, subjek dan objek, forma dan materia, jati dan diri, etc.


Banyumas, 13 Oktober 2020.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir.  Kalimat itu bukan keluhan individu, melainkan potret sebuah zaman. Suatu kondisi ketika keberadaan yang diukur terutama dari kegunaannya, dan kehidupan yang diukur dari seberapa lancar roda sosial dapat terus berputar. Dalam tatanan seperti ini, berhenti berpikir tidak dianggap perlu, melainkan mengganggu. Masyarakat modern bergerak dengan efisiensi logika. Setiap orang Ditempatkan dalam peran, setiap peran menuntut kinerja, dan setiap kinerja harus terlihat. Pertanyaan tentang makna tidak masuk dalam laporan, tidak tercatat dalam grafik, dan tidak memberi kontribusi langsung pada hasil. Maka berpikir menjadi aktivitas yang tak produktif—sesuatu yang dapat ditunda tanpa konsekuensi yang tampak. Dalam situasi itu, manusia belajar hidup secara fungsional. Bangun tepat waktu, menjalankan tugas, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya keesokan harinya. Kehidupan berjalan sebagai rangkaian prosedur yang sah dan dapat dipertan...