Skip to main content

Pancangan Psikedelik

Memandang dunia dari kejauhan, sepertinya teramat sukar untuk dijalani. Terlebih, kedekatan jiwa dengan garis kenyataan, semakin fana untuk di gubah. Pelajaran memang akan selalu ada, tetapi tidaklah semudah saat mendengarkannya.


Bernasib tidak di inginkan, adalah pekerjaan yang paling menguras tenaga. Kau dan mereka, pasti sempat merasakannya. Alih-alih memulai sebuah harmoni, justru mereka-mereka tak kenal akan empati.


Sampai pada sebuah konsepsi, katakanlah menerima kodrat alam, untuk kemudian menjalaninya. Adalah bagian dari babag hidup yang menggelikan, bias, dan paradoks. Mereka menyuruhmu memberi, sedang bekalmu saja tak cukup memenuhi bentangan realitas.


Syahdan, tenang dalam keriuhan,  agaknya mampu sedikit menawar kamuflase diri, sekalipun hanya sekejap. Tenang yang seperti apa? Riuh yang macam mana?


Untunglah, beberapa episode jalan, memancangkan kepedulian. Misalnya, melatih kesadaran demi menafsirkan ulang keadaan yang rumit dan kompleks, menjadi kesederhanaan, walaupun masih abu-abu sebagai ketegasan.


Anak-anak masih bermain di pelataran, bayam di belakang halaman tetap menumbuh, dan mereka memang belum mengerti sepenuhnya, atas bagaimana menjemput perpisahan atas dunia.


***Banyumas, 18 Januari 2021.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir.  Kalimat itu bukan keluhan individu, melainkan potret sebuah zaman. Suatu kondisi ketika keberadaan yang diukur terutama dari kegunaannya, dan kehidupan yang diukur dari seberapa lancar roda sosial dapat terus berputar. Dalam tatanan seperti ini, berhenti berpikir tidak dianggap perlu, melainkan mengganggu. Masyarakat modern bergerak dengan efisiensi logika. Setiap orang Ditempatkan dalam peran, setiap peran menuntut kinerja, dan setiap kinerja harus terlihat. Pertanyaan tentang makna tidak masuk dalam laporan, tidak tercatat dalam grafik, dan tidak memberi kontribusi langsung pada hasil. Maka berpikir menjadi aktivitas yang tak produktif—sesuatu yang dapat ditunda tanpa konsekuensi yang tampak. Dalam situasi itu, manusia belajar hidup secara fungsional. Bangun tepat waktu, menjalankan tugas, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya keesokan harinya. Kehidupan berjalan sebagai rangkaian prosedur yang sah dan dapat dipertan...