Skip to main content

Belum Genap Manusia (1)

Menjalani rangka hidup yang masih serba abu-abu, bukanlah sesuatu yang sama sekali baru. Bagi kami, menertawakan kemalangan diri sendiri, semacam rutinitas yang paling logis dan realistis untuk dilakukan. 

Terlebih, untuk sebagian dari kami yang seolah tak lagi memiliki keberanian untuk berbagi cerita kepada sesama. Mungkin, terlalu banyak pertimbangan bagi kami, untuk mencoba (kembali) kecewa terhadap respon nasehat yang terlampau mulia dari lawan bicara.

 

Hari demi demi hari kami lalui dengan begitu kosongnya, tanpa ada progress yang kentara, untuk bias diabadikan menjadi sejenis kebanggaan dan capaian. Semua begitu melelahkan, padat merayap tanpa kegiatan. 

Orang-orang terdekat, sesekali dibuat kebingungan oleh kami, yang nampak tak menikmati hidup, dan sekaligus muncul sebagai entitas kerumunan tanpa konsep dan prinsip yang kuat.

 

Kekhawatiran atas masa depan, dan trauma atas masa lalu, adalah dua hal yang menyelimuti hari-hari kami. 

Sekalipun terus mencoba dan berusaha menikmati hari ini, kami tetap saja masih kerap kelimpungan atas kemewahan nostalgia, beserta imajinasi masa depan yang kosong. Ini sungguh benar-benar candu, yang lambat laun terlihat nyata membunuh.

 

Kami yang tersisih dari realitas, terpaksa mencoba mencari jalan baru untuk kembali eksis dipermukaan. 

Beberapa rela menghabiskan waktunya mendengarkan petuah-petuah dari mereka yang lebih berpengalaman, beberapa lainnya merenung diatas ranjang, ada pula yang mulai mencatat impiannya kembali, sekalipun catatan itu kemudian patah dan terlupakan juga.

 

Keluh kesah menjadi canda, konsep bahagia tak ubahnya derai air mata, semua memadat dalam dada, sampai dengan sendirinya terbenam menjadi kata-kata yang tak sempat terucapkan, dan terdengar sampai ke telinga. 

Barangkali, ini merupakan balasan dari dosa-dosa yang belum termaafkan, atau sekadar batu ujian yang pada masa berikutnya, akan menguatkan.

 

Syahdan, sampai pada masanya, keriuhan menjadi ketentraman, dan kenyamanan berubah kembali pada kekacauan. Sedang, kami inimenyebutnya sebagai kehampaan, yang hadir saat raga menolak jiwa, dan begitu juga sebaliknya. 

Dan, kami tidak benar-benar menginginkan untuk menjadi apapun. Kami, hanya sekadar menolak untuk sia-sia, katanya.

 

***Banyumas, 18 November 2020.


Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir.  Kalimat itu bukan keluhan individu, melainkan potret sebuah zaman. Suatu kondisi ketika keberadaan yang diukur terutama dari kegunaannya, dan kehidupan yang diukur dari seberapa lancar roda sosial dapat terus berputar. Dalam tatanan seperti ini, berhenti berpikir tidak dianggap perlu, melainkan mengganggu. Masyarakat modern bergerak dengan efisiensi logika. Setiap orang Ditempatkan dalam peran, setiap peran menuntut kinerja, dan setiap kinerja harus terlihat. Pertanyaan tentang makna tidak masuk dalam laporan, tidak tercatat dalam grafik, dan tidak memberi kontribusi langsung pada hasil. Maka berpikir menjadi aktivitas yang tak produktif—sesuatu yang dapat ditunda tanpa konsekuensi yang tampak. Dalam situasi itu, manusia belajar hidup secara fungsional. Bangun tepat waktu, menjalankan tugas, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya keesokan harinya. Kehidupan berjalan sebagai rangkaian prosedur yang sah dan dapat dipertan...