Skip to main content

Belum Genap Manusia (5)

2020 hampir selesai, peradaban semesta akan segera menuai 2021, yang tentunya dengan problematika baru. 2020 ini, kita mengalami pengalaman yang sama sekali tak terprediksi. Sekaliber rencana, terpaksa improve secara alami.


Mungkin akan sama dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana resolusi tahun baru akan indah kita canangkan. Konsepsi umum sampai men-detail, cepat-cepat dituangkan, sebagai pijakan mengarungi bahtera perjalanan.


Sebagai bagian dari peradaban ini, kami yang masih terseok-seok oleh situasi dan keadaan, belum sepenuhya menemukan pola terbaik untuk menjemput impian. Konsep masih medioker, break down-nya terlalu bias, hingga support system yang cenderung blur.


Kita semua mengerti, bahwa peradaban sebegini luasnya tidak pernah berdiri pada ruang hampa. Semua, menaruh maksud dan tujuan. Dari yang bertabrakan, bersebrangan, sampai yang memiliki sandingan. 


Syahdan, tatkala semuanya mungkin tengah mencari keputusan paling presisi, kami justru masih cenderung terseok dalam lubang kebiasaan. Non-produktif, nir-evaluatif. Semua seolah tak menghasilkan apapun, capaian sulit terkontrol, hingga waktu terus menjadi momok yang membeku.


Pada sisi 2020 sebelum akhirnya, kami yang enggan menempuh "batasan" umum, terus berjalan, walaupun sekadar menjaga kewarasan. Kami masih percaya, jalan baru kemungkinan, akan segera terbuka lepas, menyisir dipenghujung 2020 yang kelam.


Sekalipun masih ada cerah diantara hujan november, tetap saja kesakitan memang bergantian dengan kesenangan. Sampai pada akhirnya, kami terbiasa oleh hancur leburnya asa. Dan kami, tidak kemudian berhenti, untuk belajar dari itu semua. Ditengah kegelapan yang mencekam, we still can find a way.


***Purwokerto, 30 November 2020.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir.  Kalimat itu bukan keluhan individu, melainkan potret sebuah zaman. Suatu kondisi ketika keberadaan yang diukur terutama dari kegunaannya, dan kehidupan yang diukur dari seberapa lancar roda sosial dapat terus berputar. Dalam tatanan seperti ini, berhenti berpikir tidak dianggap perlu, melainkan mengganggu. Masyarakat modern bergerak dengan efisiensi logika. Setiap orang Ditempatkan dalam peran, setiap peran menuntut kinerja, dan setiap kinerja harus terlihat. Pertanyaan tentang makna tidak masuk dalam laporan, tidak tercatat dalam grafik, dan tidak memberi kontribusi langsung pada hasil. Maka berpikir menjadi aktivitas yang tak produktif—sesuatu yang dapat ditunda tanpa konsekuensi yang tampak. Dalam situasi itu, manusia belajar hidup secara fungsional. Bangun tepat waktu, menjalankan tugas, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya keesokan harinya. Kehidupan berjalan sebagai rangkaian prosedur yang sah dan dapat dipertan...