Skip to main content

Belum Genap Manusia (4)

Ketidakberdayaan terkadang mampu menumbuhkan pemberdayaan, sekalipun itu tidaklah beriringan secara langsung.


Kami tersambung oleh persamaan, untuk tidak berlebihan meraup kemerdekaan. Hingga beberapa dari mereka salah menyangka, bahwa kami sekadar malas berjuang demi angka.


Beberapa kali, kami harus rela jatuh kedalam kubangan yang sama. Hingga tatapan kosong para pejalan, sekadar numpang lewat kemudian beranjak. Mereka tak lebih kejam dari pemilik kuasa yang berjanji, terkadang sampai berniat meludah diantara kelabunya nasib sendiri.


Memang teramat wajar bagi kami yang tersisih dari gagasan umum, sesekali disisihkan oleh karena label urakan. Sungguh, kemalangan begitu dekat dan lekat. Kami kosong dari inspirasi, dan begitu nir dari kesecarahan masa yang akan.


Masa terus berjalan, sedang kami terseok-seok oleh konsep harapan. Konon beginilah sunyinya nasib orang-orang. Didepannya bersorakan, dibelakang menabung tangisan. Sampai pada akhirya, kami hanya sanggup untuk pasrah terhadap kenyamanan.


Syahdan, tidak ada yang perlu disesali dari kekakalahan yang bertubi. Sekalipun, belum secepat mereka-mereka, untuk kami belajar dari itu semua. Tetapi paling minimal, kami masih bisa bangga pada prinsip, untuk tidak mengalahkan siapapun sampai kapanpun.




***Banyumas, 28 November 2020.


Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir.  Kalimat itu bukan keluhan individu, melainkan potret sebuah zaman. Suatu kondisi ketika keberadaan yang diukur terutama dari kegunaannya, dan kehidupan yang diukur dari seberapa lancar roda sosial dapat terus berputar. Dalam tatanan seperti ini, berhenti berpikir tidak dianggap perlu, melainkan mengganggu. Masyarakat modern bergerak dengan efisiensi logika. Setiap orang Ditempatkan dalam peran, setiap peran menuntut kinerja, dan setiap kinerja harus terlihat. Pertanyaan tentang makna tidak masuk dalam laporan, tidak tercatat dalam grafik, dan tidak memberi kontribusi langsung pada hasil. Maka berpikir menjadi aktivitas yang tak produktif—sesuatu yang dapat ditunda tanpa konsekuensi yang tampak. Dalam situasi itu, manusia belajar hidup secara fungsional. Bangun tepat waktu, menjalankan tugas, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya keesokan harinya. Kehidupan berjalan sebagai rangkaian prosedur yang sah dan dapat dipertan...