Skip to main content

Belum Genap Manusia (2)

Dalam beberapa bagian, ketegangan antar sesama bisa memuncak. Pembenaran atas ini, berangkat dari relasi historis yang dimiliki. Misalnya, kecerobohan ataupun kedisiplinan yang mereka alami sebelumnya.


Sangat mungkin, dalam beberapa sesi pun demikian. Katakanlah hubungan bagian-bagian esensial atas idiom "peduli". Entah yang bertujuan khusus, ataupun sifat-sifat yang sama sekali alamiah.


Garis peduli yang melekat pada diri manusia, sangat subsantial sebagai modalitas menjalin keterkaitan. Baik yang keluasannya cair, maupun padat. Semua memiliki nyawa untuk menghidupi dan dihidupi. Dengan catatan, merujuk ke idiom peduli kembali.


Syahdan, kemelekatan antar sesama, bisa saja akan memudar, apabila salah satu pihak memutus konsensus non tulis diatas. Apalagi, bila keduanya sama-sama mengindahkan pemutusan tersebut.


Sampai pada setelahnya, integritas mesti diuji berkali-kali. Hingga lekat yang menjadi titik capai bersama, menuai sifat mungkin tak berhingga. Konon, pembagian peran atas gender, terasa begitu meluntur oleh karena perkara regenerasi.


Maka, ketegasan istilah menyangkut babagan wilayah garap antar manusia menjadi perlu, bahkan fundamental. Disinilah, prinsip interkonseksi merupakan fase berikutnya, yang mau tidak mau harus teralami.


***Cilacap, 19 November 2020.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...