Skip to main content

Pemilahan Kalimat Jawab

Beberapa sandiwara, ataupun kekakuan perjalanan hidup, cukup terlalui dengan derajat gamang. Apakah semua manusia pernah mengalaminya, atau sekadar hanya beberapa saja?


Babag hidup selalu mengarah kedepan, sekalipun pelajaran mesti berangkat dari titik belakang. Namun, kosa kata "disini dan saat ini", menjadi salah satu kunci yang menghinggapi beberapa kepuasan.


Tarikan kemasalaluan dan kemasadepanan yang hinggap merusuhi perasaan, tidak ubahnya seperti penataran menghanyutkan. Manusia terperdaya oleh singgungan gejala tersebut, hingga keputusan atas kepasrahan, nyaris tipis dengan keputus-asaan.


Putaran informasi yang membabi buta dihadapan logika, nyatanya dapat menghancurkan beberapa kerangka persiapan. Hingga sebagian episode perjuangan, terpaksa beku diangan. Ini seolah kerugian pada sisi sebagian, sekaligus semacam keharusan dalam sisi sebagian lainnya.


Syahdan, manusia menuai pemilahan atas apa-apa yang mereka alami. Beberapa hinggap menjadi ilustrasi, beberapa yang lain mengendap sebagai memori. 


Lagi-lagi, keterampilan menaruh hati pada fenomena dan peristiwa, acapkali memerlukan premis yang berganti. Kadangkala koheren dengan senyatanya, kerap juga inhern dengan seharusnya.


Samudera jiwa diantara samudera jiwa, bukan sekadar benar saja, tetapi itu nyata. Sedang, konklusi yang sahih, tidak selalu terwujud dari penempatan kata yang presisi an sich. Ia, lebih-lebih sebagai sarana kompleks, bagi kerumitan yang paling biasa.


Hingga pada suatu waktu, manusia secara berhantian, mengalami kelaparan oleh kesementaraan, dan mengalami kehausan oleh keselamanyaan. Ada yang gugur sebelum berperang, ada pula yang menanam benih tanpa menuai jerih.


***Banyumas, 11 November 2020.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir.  Kalimat itu bukan keluhan individu, melainkan potret sebuah zaman. Suatu kondisi ketika keberadaan yang diukur terutama dari kegunaannya, dan kehidupan yang diukur dari seberapa lancar roda sosial dapat terus berputar. Dalam tatanan seperti ini, berhenti berpikir tidak dianggap perlu, melainkan mengganggu. Masyarakat modern bergerak dengan efisiensi logika. Setiap orang Ditempatkan dalam peran, setiap peran menuntut kinerja, dan setiap kinerja harus terlihat. Pertanyaan tentang makna tidak masuk dalam laporan, tidak tercatat dalam grafik, dan tidak memberi kontribusi langsung pada hasil. Maka berpikir menjadi aktivitas yang tak produktif—sesuatu yang dapat ditunda tanpa konsekuensi yang tampak. Dalam situasi itu, manusia belajar hidup secara fungsional. Bangun tepat waktu, menjalankan tugas, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya keesokan harinya. Kehidupan berjalan sebagai rangkaian prosedur yang sah dan dapat dipertan...