Skip to main content

keberanian menjalani

Tumbuh bersama tidaklah mudah, terlebih apabila dua atau lebih pihak, tidak pernah menjalin komunikasi yang efektif. 


Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa apapun saja, jika diberikan embel-embel “bersama”, maka akan terjadi kelambatan, dan ini merupakan hal yang tidak disukai oleh manusia, genetik evolusinya begitu, setiap orang mengidamkan kecepatan, sama sekali membenci kelambatan.


Memilih untuk jatuh pada pilihan bersama, memang selalu membutuhkan keberanian, yang kemudian memerlukan niat yang kuat, agar pilihan atas bersama ini, tidak mudah goyah. Ketika telah terpilih niat yang kuat, kita pun harus menjaga semangat dalam menjalankannya. 


Sebab, pasti terdapat godaan yang datang sebagai ujian sebagai pemantik dalam rangka menceraikan komitmen bersama ini. Godaan tersebut, bisa jadi sebenarnya lebih kepada keengganan menghadapi kelambatan itu sendiri. Pada akhirnya, semacam pemaksaan standar antar dua pihak atau lebih.


Lalu kemudian, adakah yang lebih baik dari sekedar menciptakan komitmen atas pelaksanaan aturan yang dibuat dan disepakati? 


Jawabannya, tentu bisa jadi iya bisa jadi tidak. Namun, yang lebih penting ternyata, adalah bukan aturan apa yang dibuat dan sepakati, akan tetapi tentang bagaimana aturan itu dibuat, dan bagaimana aturan tersebut disepakati. 


Syahdan, salah satu cara terpenting dalam menyusun sebuah aturan yang baik, adalah memperhatikan dan menempatkan ruang dialog, sampai pada kata “selesai” dan “bersih”. Seringkali, bias terjadi oleh karena ada dominasi, dalam konteks apa saja. 


Maka, membereskan sesuatu yang telah dimulai, memang sebuah keberanian tersendiri. Karena ini berkaitan erat dengan keberanian, maka hal tersebut perlu dilatih, salah satunya dengan sadar, bahwa posisi kita bukanlah Tuhan yang bisa semau-maunya. 


Disinilah, keberanian menjalani menjadi modalitas penting, seperti Husserlian; keapadanyaan menerima realitas adalah kunci, bahwa kompleksitas masalah merupakan sahabat akrab spesies bernama manusia.


***Banyumas, 2 Februari 2021.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir.  Kalimat itu bukan keluhan individu, melainkan potret sebuah zaman. Suatu kondisi ketika keberadaan yang diukur terutama dari kegunaannya, dan kehidupan yang diukur dari seberapa lancar roda sosial dapat terus berputar. Dalam tatanan seperti ini, berhenti berpikir tidak dianggap perlu, melainkan mengganggu. Masyarakat modern bergerak dengan efisiensi logika. Setiap orang Ditempatkan dalam peran, setiap peran menuntut kinerja, dan setiap kinerja harus terlihat. Pertanyaan tentang makna tidak masuk dalam laporan, tidak tercatat dalam grafik, dan tidak memberi kontribusi langsung pada hasil. Maka berpikir menjadi aktivitas yang tak produktif—sesuatu yang dapat ditunda tanpa konsekuensi yang tampak. Dalam situasi itu, manusia belajar hidup secara fungsional. Bangun tepat waktu, menjalankan tugas, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya keesokan harinya. Kehidupan berjalan sebagai rangkaian prosedur yang sah dan dapat dipertan...