Skip to main content

Mengalami Diri (3)

Bulan pun berganti, beberapa babagan hidup mengalami perkembangan. Ada yang berkembang memburuk, terdapat pula perkembangan membaik, pun didalamnya masih ada yang "krasan" mengalami pengulangan. 


Sebagai pelaku dari masing-masing episodenya, manusia kadangkala memilih mengelak dari apapun saja yang menjadi senyatanya. Barangkali, alamiahnya, kalau-kalau mengakui seapadanya yang nyata, kerapkali menyiksa batin pelakunya itu sendiri.


Konsep atas "naik-turun", suasana hati memang sangat mudah untuk diterima sebagai konsep an sich. Namun, harus diakui bersama, bahwa mengalaminya secara "tak berjarak", merupakan wujud pergandengan antara penderitaan, sekaligus kenikmatan tersendiri, yang benar-benar teramat privat dan sunyi.


Pancang jalan atas titik-titik pengalaman, menjadi salah satu kajian menarik bagi para pegiat fenomenologis. Hingga, betapa berharganya arsip-arsip berbentuk ingatan itu, dimediakan keranah metodologis. Sebab, premisnya sederhana; yang membaca dan menuliskannya adalah pelaku tak berjarak itu.


Syahdan, argumentasi atas ketidakberhargaan sejarah pada diri tiap-tiap manusia, sangat mudah untuk dibantah. Rumi pun membumbuinya, bahwa manusia bukanlah tetesan ditengah samudera, melainkan ia merupakan samudera dalam bentuk tetesan.


Maka, kebenaran atas pernyataan bahwa; keadaan apapun saja, sejatinya sangat layak untuk dibagikan. Sekalipun dalam praksisnya, filter dan limitasinya memiliki keragaman yang barangkali terkesan klise.


Disinilah, watak alam memberikan bimbingan halus, dan kadangkala kejam. Bahwa misalnya, sekalipun manusia memiliki free will, ia tak akan mampu keluar dari game plan semesta, paling maksimal hanya "ubed-ubed" didalamnya. 



***Banyumas, 1 Maret 2021.


Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...