Skip to main content

Optimasi Dalam Memilih

Di era digital yang pertumbuhannya begitu pesat seperti sekarang ini, banyak sekali kemudahan yang kita peroleh dari sebelumnya. 

Namun dalam setiap kemudahan yang terjadi, pasti akan selalu ada masalah yang berkelindan dengannya.

Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa evolusi manusia memiliki naturalitas; mencari kesenangan (favorable), menghindari kesusahan (unfavorable), dengan mengeluarkan energi yang sedikit.

Konsumsi atas digital ini, membuat segala macam jenis informasi berkeliaran begitu pesatnya, ditambah situasi terbatas saat ini yang cukup mendukung interaksi digital semakin intensif sama-sama kita lakukan.

Salah satu hal gejala kecanduan atas hidangan yang muncul dari kemudahan akses informasi tersebut, cukup terasa diantara kita.

Pada akhirnya, toh semua kembali pada pertanyaan tentang "apakah hal-hal yang kita rencanakan dan lakukan selama ini, mampu mendekatkan kepada tujuan".

Berdialog secara jujur dan intim dengan diri sendiri terkait dengan hal tersebut, akan sangat membantu pelan-pelan untuk menyingkirkan distraksi. 

Every man got a right to decide his own destiny, Bob Marley mengingatkan kita.


Syahdan, sekalipun tantangan, rintangan, jenuh dan lelah pastinya tetap ada, akan tetapi kita akan tetap bahagia dalam menjalaninya. Terutama, jika itu merupakan impian sejak lama.

Dengan mengambil "jeda" (menyadari nafas here and now) dalam setiap momentum keriuhan hati dan pikiran, hal tersebut cukup dapat membantu kita untuk melatih prefontal cortex (bagian otak yang berperan sebagai pengambil keputusan), untuk lebih optimal dan bijak.


***Banyumas, 4 Februari 2021.



Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...