Skip to main content

Redemption

Terdampar ditengah cakrawala, gagap pada liang antara. Yang dikejar berpaling, yang diharap lenyap. Seperti jatuh kedalam jurang antah berantah, nir-arah.


Masih kupegang kepalanya, merasakan beban berat dipundaknya.

Mau berbicara kepada siapa, akan bercerita apa.

Tembok begitu tinggi, belum ada tangga untuk beranjak pergi.

Dadanya tertutup awan gelap, seolah cahaya kesulitan menemui celahnya.


Akan kemana?

Apa sebabnya?

Bagaimana caranya?

Kapan masanya?

 

Masihku bersamai sedihnya, kutatap mimpi buruk dimatanya. Ya, ada tetes air mata yang tertahan disana.

Sudut pandang tak beraturan, bak kerdil menemui kesendirian.

Kesepiannya tak terelakan, semacam membunuh perlahan.

 

Bagaimana dengan mereka?

Kabarnya,

Rencananya,

Kewarasannya.

 

Mungkin, kita sama. Sekalipun, tak persis sama.

 

Tenang,

Tenang,

Tenang,

 

Apapun saja, tak ubahnya kuda berlari, ada waktunya harus berhenti.

 

Sejenak,

Sejenak,

Sejenak,

 

Siapapun saja, mencari, menuju dimana sembunyinya mutiara. Perlu melewati sesal, takut, terluka, khawatir, cemas, titik nol. Sampai kemudian, tersenyum memungkasnya, dan kembali pada yang sejatinya sejati.

 

Kita sama, meski tak persis sama.

Hanya berlainan waktu, sekadar berbeda cara.

 

Orang sekitar, tak sepenuhnya salah, termasuk dengan engkau yang tak sepenuhnya keliru.

 

Emancipate yourselves from mental slavery none but ourselves can free our minds, Bob Marley mengucapkannya.


Kembalillah,

Kembalillah,

Kembalillah,

 

***Banyumas, 3 Februari 2021.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...