Skip to main content

Menemui Diri (2)

Pada saat-saat dimana kejujuran menjadi barang mahal, kadangkala kita terpaksa berkompromi dengan kobohongan. Korupsi terus menerus ada, penipuan berkedok hadiah pun masih kerap sama-sama kita jumpai, etc.


Mungkin, tidak banyak kebohongan yang kita lakukan terhadap orang lain, pun tidak pula menjamur kebohongan yang dilakukan orang lain terhadap kita. Akan tetapi sadarkah, bahwa sangat mungkin kebohongan itu justru lebih banyak kita suguhkan kepada diri sendiri?


Berusaha untuk bertindak jujur, terutama kepada diri sendiri, bukanlah perkara yang sederhana. Acapkali, kita tersiksa oleh karena itu semua. Bahkan, rela melakukannya sekedar demi mengamankan yang tak semestinya diamankan.


Melakukan satu kebohongan, akan diikuti oleh kebohongan berikutnya. Begitu juga sebaliknya; bertindak jujur pasti akan menuai kejujuran berikutnya. Begitulah, prinsip kausalitas yang berlaku. Meskipun lagi-lagi, butuh pembiasaan untuk merealisasikannya.


Syahdan, jalan terjal menemui diri, tidak selamanya sederhana dikatakan. Terlebih, menemui diri yang jujur atas apa saja yang menjadi fakta. Misalnya, jujur mengakui keterbatasan diri, kesalahan masa lalu, ketidakdewasaan bersikap, etc.


Meskipun tidak mudah, dan pastinya merasakan cabikan perasaan, tetapi bukankah kita sama-sama mengerti, bahwa berkata dan bertindak jujur adalah hal yang mampu menyelamatkan? Terhadap apapun saja, terlebih kepada diri kita sendiri.


Barangkali, kejujuran dalam beberapa kesempatan dibayar dengan kekecewaan, kepercayaan dibalas dengan pengkhianatan, dan kepedulian dihargai dengan pembiaran. Namun, begitulah hidup "lunyu-lunyu penekno", tutur Sunan Ampel. 


Wajar, jika kemudian kita khawatir atas gagal. Sebab, selama ini kita lebih sering diajari untuk berhasil an sich, dan melupakan bagaimana belajar untuk menerima dengan apa adanya, bahwa gagal merupakan kewajaran yang siapapun saja pernah mengalami.


Namun sungguh, kita sama-sama mengerti, kalau-kalau kita berada pada posisi baik, maka dengan sendirinya vibrasi yang muncul bukanlah perihal disonansi. Sekalipun, kondisi bifurkasi; mengkhwatirkan kegagalan dan larut dalam perayaan keberhasilan, kerap membuat gamang. 


Temuilah diri, terimalah ia secara utuh, berhasilnya, gagalnya, apa adanya. Berlakulah lembut atasnya, maafkan kita yang kerap memarahinya. Tenang, hadapi, tenang terima, tenang hadapi, tenang terima.

 

***Banyumas, 16 Februari 2021.


Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...