Skip to main content

Pusaran Relasi Absurditas (9)

Eskalasi yang terjadi pada informasi digital akhir-akhir ini, kerap membuat psikis publik kelimpungan. Broadcast your self yang sudah mengembang dan tumbuh, acapkali menjadikan publik tercerabut dari akar kebudayaan ketimuran yang santun. Media sosial kadangkala  kelewat batas, untuk tidak mengatakan sering, menampilkan segala macam hal, yang positif dan negatif membaur tak terperikan.

Memang, kita sama-sama mengerti, bahwa seluruh keputusan konsumsi dikembalikan pada diri individu masing-masing. Akan tetapi, hukum propaganda tetap saja berlaku dalam segala zaman, salah satunya adagium; "sesuatu yang diulang-ulang akan menjadi benar, sekalipun itu keliru".

Dalam rangka menyimpulkan benar dan salah, manusia memiliki tendensi dan preferensinya sendiri-sendiri. Lebih kurang, ia akan mempertimbangan pengetahuan tradisional (waktu), akal sehat, pihak otoritatif, dan intuitif. Yang mana, pertimbangan tersebut memiliki ketidakandalan yang primer, dalam artian margin of errornya sangat dinamis.

Situasi pandemi akhir-akhir ini, secara otomatis mengubah kebiasaan tatap muka secara nyata, beralih menjadi tatak muka secara maya. Intensitas penggunaan gadget meningkat, disusul pemberlakuan work form home.

Space informasi digital, yang mana kran untuk ikut serta menampilkan kedirian masing-masing terbuka amat besar, maka diperlukan "sikap self control yang lebih tinggi dari biasanya". Dari mengkonsumsi informasi, sampai memproduksi informasi, keduanya harus disandingkan dengan self control yang melampaui, yaitu dengan sains.

Seperti yang sudah kita mengerti bersama, bahwa sains mengandung prinsip empiris dan logis, menjadi jalan yang paling mendekati terpercaya, jika dibandingkan dengan prinsip tradisional, akal sehat, pihak otoritatif dan intuitif an sich. Sains disebut melampaui, sebab ia memandu yang tradional, akal sehat, dan intuitif dalam prinsip holisitik-komprehensif.

Syahdan, segala macam dan jenis informasi yang begitu membanjir dalam psikis publik akhir-akhir ini, apabila tidak menghadirkan prinsip scientific, dikhawatirkan dapat memproduksi masalah baru. Karena pertimbangan atas tindakan, tidak mungkin berangkat tanpa penalaran terlebih dahulu. Akan tetapi, semua kemudian harus menemukan presisi dari frasa, the art of religion atau the scientific of religion.

***Banyumas, 8 Juli 2020.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...