Skip to main content

Manusia Manusia Semacammu (2)

Nampak jelas, guratan juang dari pelipisnya, tak terkecuali lebam kedua telapak tangannya, tanda berat memikul tanggung jawab. Diantara ribuan wajah yang bersua, agaknya yang ini lain dan berbeda. Disana ada ketulusan, kesabaran, sekaligus dentuman syukur tiada henti.

Ia, sejatinya tak berkecukupan, menurut kacamata modernitas. Pun, terseok-seok roda life style yang hingar-bingar abad 21 ini. Namun, sepertinya tidak pernah terjadi "apa-apa" dalam jiwan terdalamnya, misalnya cemburu dunia, dan lain sebagainya.

Ditengah badai virus "by design" kekuatan besar ekonomi dunia, ia semacam tak memperdulikannya. Walaupun tetap saja, perilaku dalam konteks pemenuhan kebutuhan sehari-sehari, tak ternafikan ikut ter-gubah.

Hari demi bari dilewatinya dengan sentuhan romantik bersama anggota perjuangannya, keluarga. Disanalah, kunci kelegaan batin dalam mengarungi hidup yang garang nan kejam. Disana pula lah, titik terendah dan bangkit bercampur dengan air mata yang tak mampu ia teteskan ulang.

Syahdan, pada sisa-sisa tenaga yang tersirat di pelupuk matanya, asam garam hidup ia lewati beserta panas dinginnya kota. Tak peduli lagi, apa yang menjadi citanya. Sebab, buah hati baginya, adalah seluruhnya. Sekali bertemu dengannya, tertampar hati yang nihil terima, termehek-mehek dalam fatamorgana.

Bah!!!
Manusia Manusia semacammu, mana muncul sebagai figur sosial. 

***Solo, 30 Juli 2020.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir.  Kalimat itu bukan keluhan individu, melainkan potret sebuah zaman. Suatu kondisi ketika keberadaan yang diukur terutama dari kegunaannya, dan kehidupan yang diukur dari seberapa lancar roda sosial dapat terus berputar. Dalam tatanan seperti ini, berhenti berpikir tidak dianggap perlu, melainkan mengganggu. Masyarakat modern bergerak dengan efisiensi logika. Setiap orang Ditempatkan dalam peran, setiap peran menuntut kinerja, dan setiap kinerja harus terlihat. Pertanyaan tentang makna tidak masuk dalam laporan, tidak tercatat dalam grafik, dan tidak memberi kontribusi langsung pada hasil. Maka berpikir menjadi aktivitas yang tak produktif—sesuatu yang dapat ditunda tanpa konsekuensi yang tampak. Dalam situasi itu, manusia belajar hidup secara fungsional. Bangun tepat waktu, menjalankan tugas, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya keesokan harinya. Kehidupan berjalan sebagai rangkaian prosedur yang sah dan dapat dipertan...