Skip to main content

Pusaran Relasi Absurditas (8)

Cara pandang bukan hanya beragam, namun sangat dinamis, bahkan pada diri setiap individu. Kita bisa menjumpai hal tersebut pada banyak hal, salah satunya pada diksi "sepeda", akhir-akhir ini.

Kedinamisan yang melekat pada cara pandang, terkadang disalahartikan sebagai ketidak konsistenan atau kelabilan sikap. Padahal jelas-jelas, dinamika selalu mewarnai kehidupan, dari mulai metabolisme tubuh sampai ekosistem pasar global.

"Indonesia memang sudah melaksanakan persatuan, akan tetapi kita belum mewujudkan kesatuan", kata 'orang gila' yang saya temui tahun 2017. Mendengar kalimat itu, saya hanya mengiyakan saja, sambil tetap mendengarkan orang gila tadi ngoceh, sekaligus ngacung-ngacung buku yang ia tulis sendiri, katanya.

Ketika kejadian 2017 tersebut saya ingat-ingat kembali, ternyata ada benarnya juga. Walaupun diksi persatuan dan kesatuan itu perbedaannya betul-betul tipis, akan tetapi, maknanya berbeda 180 derajat. Pertanyaanya, apa yang berbeda?

Jawaban paling mendekati untuk mengudar keberbedaannya, terletak pada frasa; kami bersatu, dan kami satu kesatuan. Letak penekanannya jelas lain. 

Syahdan, segala mekanisme untuk menyatu dalam ranah universal, agaknya masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Sebab kesenjangan yang nyata, merupakan biang keladi kerusuhan kesejarahan. Lain cerita, misalnya individu sama-sama sadar, apabila segala macam behavior, tidaklah berdiri pada ruang hampa.

***Banyumas, 7 Juli 2020.


Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...