Skip to main content

Kepada Adinda (4)

Menahan diri dari lapar dan haus barangkali jauh lebih mudah, dari pada menahan diri untuk tidak mencintainya. Apalagi, dirinya adalah bagian yang sempat menyita waktu. 

Dirinya pernah menjadi sekuncup bunga, yang amat engkau tunggu masa mekarnya. Betapa tidak halu, menunggu kapan sang bunga merekah harumnya.

Sesaat setelah kerongkongan terbasahi oleh hidangan berbuka, semenjak itulah kerinduan akan temu, menjadi bungkuk mengharap rembulan. 

Tidakkah dirimu merasainya, adinda?
Misalnya, pada jumpa kita di malam menjelang ramadhan tahun lalu. Atau, terbesitkah dalam benakmu, pada "ketika" yang sempat menjadi ingatan termanis "kita".

Adinda, bersamaan dengan riuh malam yang paling sepi ini, aku telah sampai pada titik gusar kedirian, yang menjelma atas meta-makna wajahmu.

Disana, ada kata yang begitu mencengkram seisi dada. Katanya, mungkinkah kau aku, menyatu kembali ditengah nada-nada ketaman asmara. 
Bah! Adindaku . . .

***Banyumas, 13 Mei 2020.



Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...