Skip to main content

Korban Virus (4)


Bagi mereka yang sanggup mengambil hikmah di tengah pandemi ini, saya sampaikan; Anda beruntung. Anda adalah manusia yang mungkin menjadi mayoritas. Sebab mereka yang tak mampu mengambil hikmah, otomatis menempati posisi minoritas.

Positif dan negatif, acapkali bukan terletak pada kejadiannya, tetapi ada pada pensikapnnya. Sikap yang positif, akan membawa pemiliknya menempuh mekanisme tindakan yang positif pula. Begitu juga sebaliknya, apabila sikap yang dipilih adalah negatif.

Sikap sebagai latar utama perilaku, memiliki dinamika yang intens. Pagi begini, sore begitu, malam bisa berbeda sama sekali. Adalah normal bagi manusia seluruhnya, karena tak ada yang bisa mengendalikan lingkungan secara sempurna.

Saat pandemi menempuh 28 (dua puluh delapan) hari, fenomena yang cukup berkembang ditengah masyarakat, ialah kriminalitas pencurian. 2 (dua) pekan yang lalu, pakde saya kemalingan motor, dan begitu juga tetangga saya yang kehilangan motornya. 

Kalau ada yang memilih untuk mencuri motor, kemungkinannya cuma ada dua, pertama kepepet kebutuhan. Kedua, kehilangan pekerjaan. Mencuri motor sangat berbeda, dengan kejahatan kerah putih; korupsi.

Orang yang mencuri, sudah bisa dipastikan bersikap negatif terhadap pandemi ini. Karena ia tak mampu mengambil hikmahnya, misalnya dengan bercocok tanam. Namun, siapa yang mengerti, jika menanam juga terkadang butuh skill tertentu.

Pencurian memang mengerikan, tetapi sebenarnya ada yang lebih mengerikan, adalah ketika meja makan berbuka puasa penuh dengan aneka ragam menu, sedang tetangganya kelaparan.

Jadi, siapa yang salah; mereka yang selfie menu buka puasa mewah, atau maling motor demi kebutuhan pangannya. Yang jelas, beberapa hal diatas perlu dipikirkan, seminimal-minimalnya sebagai pertanda untuk masa yang akan hadir.

***Banyumas, 12 Mei 2020.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...