Skip to main content

Pusaran Relasi Absurditas (2)

Keluasan sikap antara satu manusia dengan manusia lainnya, biasanya tergambar dari sisi keramahannya. Orang yang dewasa, akan memilih lembut ketimbang kasar. Memilih untuk rendah hati, dari pada arogan.

Pada sisi lainnya, manusia yang serba unik ini, mengalami dinamika kejiwaan yang sebenarnya sangat cepat, namun juga lamban. Cepat di asosiasikan terhadap perubahan mood, sedang lambat di asosiasikan kepada perubahan gerak. Mood dan gerak keduanya integralistik, sekalipun tak selalu kausalistik.

Manusia sebagai figur peradaban, memuat sisi sunyi dalam dirinya. Seperti menyimpan rahasia diatas rahasia, semacam menyembunyikan suara ditengah jeritan jiwa. Yang nampak, tak selalu yang nyata. Sesekali, yang nyata itulah yang senyatanya.

Kini kita sama-sama bisa menyaksikan, betapa arus perubahan dunia sebegitu cepatnya menggeliat, walaupun sejatinya itu tidak mengganti yang esensi. Ia tak lain hanya cover semata, ataupun kemasan an sich.

Akar kesejarahan manusia tetaplah sama, ialah mengganti yang pernah ada, melanjutkan, kemudian memperbarui yang sudah tidak kompatibel. Lingkaran ini, memutar terus sampai titik henti yang unpredictable.

Syahdan, term-term sejenis homo deus, sejatinya hanyalah penamaan untuk memudahkan penyebutan saintifik. Tentu tidak mudah, jika yang Maha, jelas-jelas eskplisit memberitahu manusia kecuali itu sedikit.

***Banyumas, 21 Juni 2020.



Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...