Skip to main content

Pusaran Relasi Absurditas (4)

Frekuensi komunal, pasti selalu berakar dari koherensi tematik. Hal-hal yang berkelindan didalamnya, ada banyal hal. Utamanya, perihal hubungan.

Hubungan mengandung arti keterkaitan antara dua hal atau lebih, yang bertolak dari term "saling" pragmatikal, dan atau simbiosis mutualisme.

Hubungan memiliki korelasi multidimensional, yang berakar dari kesinambungan kebutuhan. Hal yang tidak kentara dari hubungan adalah frekuensi komunal sebagaimana kita singgung diatas.

Frekuensi komunal menyangkut hajat hidup manusia yang terus melingkar, serta tidak akan lekang oleh warna laju tumbuh-kembang sains dan teknologi mutakhir.

Dalam tataran kekinian, nampaknya kita akan terus menerus dihadapkan dengan pola umum yang berlaku. Misalnya, naik-turunnya kohesifitas sosial. Apalagi, situasi yang tengah melanda dunia, adalah pandemi.

Syahdan, frekuensi komunalitas pada abad milenium ini, tengah di uji melalui fenomena media sosial, yang memberikan space kepada publik untuk berekspresi secara radikal-eksistensial. 

Siklus hidup yang sedang kita alami ini, sungguh tidak mudah. Alternatif yang barangkali bisa kita jadikan sandaran adalah, memuasakan sejenak keliaran hegemonik, demi menjaga presisi keakraban sosialita.

***Cilacap, 21 Juni 2020.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir.  Kalimat itu bukan keluhan individu, melainkan potret sebuah zaman. Suatu kondisi ketika keberadaan yang diukur terutama dari kegunaannya, dan kehidupan yang diukur dari seberapa lancar roda sosial dapat terus berputar. Dalam tatanan seperti ini, berhenti berpikir tidak dianggap perlu, melainkan mengganggu. Masyarakat modern bergerak dengan efisiensi logika. Setiap orang Ditempatkan dalam peran, setiap peran menuntut kinerja, dan setiap kinerja harus terlihat. Pertanyaan tentang makna tidak masuk dalam laporan, tidak tercatat dalam grafik, dan tidak memberi kontribusi langsung pada hasil. Maka berpikir menjadi aktivitas yang tak produktif—sesuatu yang dapat ditunda tanpa konsekuensi yang tampak. Dalam situasi itu, manusia belajar hidup secara fungsional. Bangun tepat waktu, menjalankan tugas, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya keesokan harinya. Kehidupan berjalan sebagai rangkaian prosedur yang sah dan dapat dipertan...