Skip to main content

Ruang Interupsi (20)

Dahulu, barangkali kita sempat mendengar sebuah kata-kata bahwa "kedalaman lautan bisa terukur, namun kedalaman jiwa siapa yang tahu?".

Frasa diatas, oleh sains modern perlahan terungkap menjadi fakultas geofisika dan psikologi. Kuantifikasi akan kedalaman lautan jelas mampu terbaca dan diketahui oleh geofisika.

Sedang, kedalaman jiwa, di cicil kedalamannya melalui behavior pemilik jiwa tersebut. Walaupun, amat nampak limitasi pencandraan dan rasionalisasi behavior itu, ketika merangsak dari yang spekulatif-subjektif, menuju yang objektif dalam arti valid dan reliable.

Maka, untuk kemudian memberi "label paten" pada struktur lautan sah-sah saja. Sebab, nature tidak berjalan sedinamis ilmu humaniora.

Sedang, apabila label paten itu di sematkan pada fakultas humaniora, maka tidaklah sah, untuk tidak menyebut batal. Sekalipun, pola humaniora sempat (dan nampak masih) memiliki madzhab behaviorisme yang berjaya.

Jadi, segala jenis dialektika pada ruang reseptor simbolik humaniora, sejatinya tak pernah boleh di "pola" kan secara beku dan kaku.

Karena pada faktanya, kita lebih sering menemui, hal-hal yang tak terduga dan serba uncertainty dari fakultas humaniora, ketimbang fakultas nature.

Dari sekelumit rekonstruksi frasa "kedalaman lautan dan jiwa", seminimal-minimalnya kita tidak menjadi serampangan, dalam hal merasa, berfikir, dan bertindak.

***Banyumas, 17 Maret 2020.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...