Skip to main content

Corona, Bisa Apa?

Keadaan dunia terus berubah, dan Corona, adalah salah satu momok mengerikan bagi manusia seluruhnya. Bencana tak pernah dirindukam siapapun.

Orang bijak mengatakan, "lebih baik memperhatikan kekuatan diri, dari pada kelemahan diri, kemudian berhenti untuk menyalahkan keadaan". 

Memang berat dan sulit untuk menerima kondisi yang sama sekali tidak mengenakan ini, tetapi akan bagaimana lagi, jika here and now nya sudah begini. 

Disaat-saat krisis semacam ini, barangkali yang bisa dilakukan ialah, mencari kembali yang dahulu mungkin sempat hilang, atau menguatkan kembali, apa-apa yang pernah luruh. Dan, bertahanlah.

Tuhan berfirman, "bersama kesulitan ada kemudahan". Dari firman itu, nampak jelas, bahwa "Bersama" menjadi garis merahnya, bukan "sesudah". Artinya, ada dorongan bagi pembacanya, untuk mencari titik hikmahya.

Pertanyaan "Corona, Bisa Apa?" barangkali bisa dimunculkan pada saat-saat sulit seperti ini. Orang-orang Indonesia khususnya, memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut sangat beragam. Bisa kita lihat, dari lingkup sekitar dan media sosial.

Apapun jawaban atas pertanyaan "Corona, Bisa Apa?", yang jelas kita harus menerima apa adanya. Terima dahulu, baru hadapi.

Barangkali, Corona sedang mengajak dan melatih manusia, untuk menemukan keindahan dibalik keburukan, keterangan ditengah kegelapan, kemenangan dihadapan kekalahan, dan kecintaan diantara kebencian.

Tidak mudah, tetapi mau bagaimana lagi. Mak terimalah, lalu hadapilah. Semampumu saja, tak perlu dipaksakan. 

***Purwokerto, 30 Maret 2020.





Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...