Skip to main content

Ruang Interupsi (15)

Pada seluruh jenis keputusan yang telah diambil, bahwa kemudian menyisakan dilema pada kemudian waktu, itu wajar dan sah-sah saja. Sebab, itulah konsekuensi dari alamiahnya manusia, yang selalu merasa dan berfikir sepanjang hayatnya.

Namun, yang perlu di garisbawahi ialah, mengenai presisi pada tiap-tiap keputusan itu. Entah itu karir, ataupun soal keputusan besok mau makan apa, misalnya.

Presisi yang kita maksud diatas, adalah perihal pemahaman konsep, aspek, sampai pada situasi dan kondisi dari konsekuensi keputusan itu sendiri.

Maka tidak heran, jika orang-orang yang berhasil, selalu mewanti-wanti akan pentingnya mindset positif. Artinya, seluruh dorongan untuk bertindak, selalu berangkat dari basis yang positif. 

Walaupun, misalnya motif tindakan itu basisnya adalah menghindari yang negatif itu boleh-boleh saja. Akan tetapi, jika background yang mendasari tindakan itu ialah yang positif, maka hal tersebut pastinya lebih bijak.

Jadi, masing-masing kita bisa menilai dan mungkin mengkalkulasi. Apakah angka basis tindakan untuk menghindari yang negatif itu lebih banyak, atau sebaliknya?

Pemahaman terhadap hal tersebut, seminimal-minimalnya dapat berguna bagi kita, untuk men-training diri untuk tidak mengikuti arus dunia, yang mayoritas mengejar kekayaan, popularitas, kepintaran, dan kekuasaan.

***Solo, 3 Maret 2020.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir.  Kalimat itu bukan keluhan individu, melainkan potret sebuah zaman. Suatu kondisi ketika keberadaan yang diukur terutama dari kegunaannya, dan kehidupan yang diukur dari seberapa lancar roda sosial dapat terus berputar. Dalam tatanan seperti ini, berhenti berpikir tidak dianggap perlu, melainkan mengganggu. Masyarakat modern bergerak dengan efisiensi logika. Setiap orang Ditempatkan dalam peran, setiap peran menuntut kinerja, dan setiap kinerja harus terlihat. Pertanyaan tentang makna tidak masuk dalam laporan, tidak tercatat dalam grafik, dan tidak memberi kontribusi langsung pada hasil. Maka berpikir menjadi aktivitas yang tak produktif—sesuatu yang dapat ditunda tanpa konsekuensi yang tampak. Dalam situasi itu, manusia belajar hidup secara fungsional. Bangun tepat waktu, menjalankan tugas, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya keesokan harinya. Kehidupan berjalan sebagai rangkaian prosedur yang sah dan dapat dipertan...