Skip to main content

Kembali Cahaya

Dahulu, kita sempat memejam mata, di kala rindu itu ada.
Kita sempat sama-sama tertegun, misalnya saat meminum air putih di kota perantauan, sembari terbayang masing-masing dari kita tersenyum merekah.

Dahulu, ada malu yang selalu hadir ditengah deru ramai kampus itu.
Misalnya, saat kita tak sengaja berpapasan di depan gedung perpustakaan. 
Disana, aku pernah mencuri pandangku menujumu, sesekali pura-pura tak melihat, padahal dengan amat jelas, dari kejauhan kita sudah saling tatap.

Dahulu, kita mungkin saling sembunyi mengirim do'a, berharap tak seorangpun mengetahuinya, termasuk diantara kita, kecuali diketahui oleh Tuhan yang Maha.

Dahulu, dahulu. . .
Dahulu jelas berbeda, dengan kini.

Kita, barangkali tak saling mengerti betul tentang cinta.
Mungkin pula, tak saling memahami benar, akan makna rindu yang tersemat pada Adam dan Hawa.

Tetapi cahaya. . .
Betapa terkadang, hati ini larut padamu.
Ia kerap dipersimpangan, antara mengikhlaskan atau memilih kembali berjuang.

***Banyumas, 27 April 2020.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir.  Kalimat itu bukan keluhan individu, melainkan potret sebuah zaman. Suatu kondisi ketika keberadaan yang diukur terutama dari kegunaannya, dan kehidupan yang diukur dari seberapa lancar roda sosial dapat terus berputar. Dalam tatanan seperti ini, berhenti berpikir tidak dianggap perlu, melainkan mengganggu. Masyarakat modern bergerak dengan efisiensi logika. Setiap orang Ditempatkan dalam peran, setiap peran menuntut kinerja, dan setiap kinerja harus terlihat. Pertanyaan tentang makna tidak masuk dalam laporan, tidak tercatat dalam grafik, dan tidak memberi kontribusi langsung pada hasil. Maka berpikir menjadi aktivitas yang tak produktif—sesuatu yang dapat ditunda tanpa konsekuensi yang tampak. Dalam situasi itu, manusia belajar hidup secara fungsional. Bangun tepat waktu, menjalankan tugas, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya keesokan harinya. Kehidupan berjalan sebagai rangkaian prosedur yang sah dan dapat dipertan...