Skip to main content

Setel Gaya Manual

Keragaman latar belakang kebudayaan pada setiap individu, memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap gaya hidup, serta pensikapannya.

Background yang tumbuh dan berkembang pada individu tersebut, tidak lantas bersifat konstan. Hal tersebut, memberi sebuah simpulan, bahwa untuk urusan psikis memang sangatlah dinamis.

Soal sikap, semua tergantung pada konteks apa yang tengah berlangsung. Manusia selalu elastis dalam menghadapinya. 

Naik-turun suasana jiwa manusia, sejatinya merupakan hal yang amat lumrah. Terkadang kita bisa melihat, manusia yang amat ramah di satu sisi, dan juga kita pun sanggup menatap manusia yang amat marah di sisi lainnya.

Dua sisi yang berlawanan, antara ramah dan marah itu, pun kerap diborong oleh satu individu dalam per-waktunya. Yang jelas, semua tetap sama, yaitu berakar dari pensikapan yang memiliki bumbu latar belakang kebudayaannya.

Berniat untuk menghilangkan sikap marah yang memiliki kandungan negatif pada manusia, adalah pekerjaan yang impossible. Manusia hanya punya satu opsi, ialah menahannya. Menahan untuk tetap ramah, supaya kemudian tidak marah.

Ramah adalah suatu sikap yang bersarikan nilai positif. Siapapun akan menerima dengan bersahaja atasnya. Ramah merupakan perkakas universal kemanusiaan, yang paling tinggi harganya.

Sayang, nampaknya dalam masyarakat kita, jauh lebih banyak yang tau tentang hal tersebut, ketimbang melakukannya. Lebih banyak yang paham, dari pada berbiasa.

Barangkali, perlengkapan psikis masyarakat kita, sesekali perlu di setel manual, mbok ana bedane.

Wallohu a'lam.
Sukoharjo, 17 Desember 2019.



Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir.  Kalimat itu bukan keluhan individu, melainkan potret sebuah zaman. Suatu kondisi ketika keberadaan yang diukur terutama dari kegunaannya, dan kehidupan yang diukur dari seberapa lancar roda sosial dapat terus berputar. Dalam tatanan seperti ini, berhenti berpikir tidak dianggap perlu, melainkan mengganggu. Masyarakat modern bergerak dengan efisiensi logika. Setiap orang Ditempatkan dalam peran, setiap peran menuntut kinerja, dan setiap kinerja harus terlihat. Pertanyaan tentang makna tidak masuk dalam laporan, tidak tercatat dalam grafik, dan tidak memberi kontribusi langsung pada hasil. Maka berpikir menjadi aktivitas yang tak produktif—sesuatu yang dapat ditunda tanpa konsekuensi yang tampak. Dalam situasi itu, manusia belajar hidup secara fungsional. Bangun tepat waktu, menjalankan tugas, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya keesokan harinya. Kehidupan berjalan sebagai rangkaian prosedur yang sah dan dapat dipertan...