Skip to main content

Apa Ada Angin di Surakarta (41)

Bukan sesuatu yang mudah, apabila yang kita hadapi adalah hal yang sebenarnya bukan menjadi keinginan. Apa yang telah dialami, bukanlah bagian dari rencana. 

Dalam rentang kehidupan yang serba uncertainty ini, kerap kali kita dihadapkan dengan segala hal yang sulit dalam sekejap diterima begitu saja. Maka tak heran, jika kemudian muncul frasa "bahwa pengalaman adalah guru paling kejam, bukan sekadar guru terbaik an sich".

Mungkin, apabila peta kehidupan belum disusun sedemikian rupa, serta pola yang sistemik belum juga dicipta, sepertinya tidak terlalu menjadi soal, apabila yang menjadi krenteng ati, kemudian tak ter-ijabahi.

Namun, jika semua itu (peta dan pola), telah tersusun, namun tak terwujud, disitulah kita kembali mengingat salah satu entitas "sabar".

Innalloha ma'a shobirin, lebih sering terngiang dalam suasana duka yang menimpa. 

Entah, apalah daya manusia. Ia hanya ciptaan semata. Ia hanya mengikuti alur penguasa semesta. Ia hanya pengelola, bukan pemilik utama. Dan, ia hanyalah titik diantara banyakanya tinta.

Hah.
Ditengah kompleksitas makna dibalik peristiwa, rupa-rupanya kita baru sampai pada kesadaran mengeja. Iya, hanya mengeja, tidak atau belum sanggup membaca.

Kabar terakhir, sementara itu dulu.
Semoga, selalu ada ruang terdalam, untuk selalu siap terselundup oleh dekapan angin di Surakarta yang membiru.

Wallohu a'lam.
Sukoharjo, 24 Desember 2019.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...