Skip to main content

Tersapu Debu Jalanan

Untuk bisa menuangkan segala rasa dan pikiran kedalam sebuah tulisan, terkadang menuai banyak sekali kesulitan. Tidak mudah, adalah kata yang kerap muncul. Tak mampu dipaksakan, merupakan simpulan yang acapkali hadir.

Kadang-kadang, satu kejadian menghasilkan satu jenis tulisan. Kadang merupakan kompilasi, atau malah hanya penggalan-penggalan peristiwa.

Tidak terkecuali, pertimbangan privasi menjadi hal yang problematis. Sebab, muka akam ditaruh dimana, jika keambyaran relung hati, oleh orang lain sanggup diketahui.

Ditengah dilema dan dinamika intrinsik yang melanda, terimakasih ku sampaikan kepada para musisi. Merekalah pahlawan yang lebih sering, mampu mewakili perasaan. 

Nada, lirik, dan suaranya, sanggup memfasilitasi katarsis jiwa. Untuk kemudian melonggarkan otot-otot psikis yang tegang oleh ragamnya benturan kehidupan.

Itu salah satu saja, masih banyak fasilitas yang terhampar untuk bisa dijadikan "tong sampah", bagi hati yang terus-menerus menuju rindu ilahi.

Perjalanan "menuju" ini, tinggal memilih. Antara membelakangi, atau menatapi. Antara siap sedia atau dengan terpaksa.

Wallohu a'lam.
Sukoharjo, 15 Desember 2019.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...