Skip to main content

Apa Ada Angin di Surakarta (44)

Situasi yang penuh kesemrawutan, sebenarnya hampir selalu ada dalam setiap kesejarahan manusia. Baik itu dalam rentang panjang maupun pendek.

Titik kulminasi pun, sejatinya rutin menghinggapi tiap-tiap penggalan kisah perjalanan. Dalam satu aspek, maupun secara holistis.

Deburan ombak di laut lepas, suara gemuruh gunung, tetes embun diatas daun, dengan amat nyata, tanpa henti-hentinya menandai heterogenitas gejalanya.

Aku, kita, dan mereka, beserta seluruh lapisan rahasianya, menyatu sampai ke kedalaman yang unlimited. Tak terkecuali, pada semua hal yang sempat ter-sengaja.

Namun selebihnya, akan lebih laten lagi, jika apapun itu, kita sodorkan saja pada sejauh jangkauan langit itu. Toh, seluruhnya hanya akan mengalami kesemuan achivement an sich.

Padahal, yang kerapkali tak disadari, adalah angin di sini. Yang dengan begitu faktual, membersamai tanpa tepi.

Wallohu a'lam.
Sukoharjo, 28 Desember 2019.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir.  Kalimat itu bukan keluhan individu, melainkan potret sebuah zaman. Suatu kondisi ketika keberadaan yang diukur terutama dari kegunaannya, dan kehidupan yang diukur dari seberapa lancar roda sosial dapat terus berputar. Dalam tatanan seperti ini, berhenti berpikir tidak dianggap perlu, melainkan mengganggu. Masyarakat modern bergerak dengan efisiensi logika. Setiap orang Ditempatkan dalam peran, setiap peran menuntut kinerja, dan setiap kinerja harus terlihat. Pertanyaan tentang makna tidak masuk dalam laporan, tidak tercatat dalam grafik, dan tidak memberi kontribusi langsung pada hasil. Maka berpikir menjadi aktivitas yang tak produktif—sesuatu yang dapat ditunda tanpa konsekuensi yang tampak. Dalam situasi itu, manusia belajar hidup secara fungsional. Bangun tepat waktu, menjalankan tugas, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya keesokan harinya. Kehidupan berjalan sebagai rangkaian prosedur yang sah dan dapat dipertan...