Skip to main content

Sedang, Bunga-Bunga Pun Berjatuhan. (1)

Tiba-tiba kau mengabariku. Katamu, studi yang kau jalani sudah tuntas. Tinggal menunggu tahap akhir pengesahan saja, yang beberapa bulan kedepan akan terlaksana. Mendengar kabar bahagia ini, tentu aku ikut senang menerimanya.

Ditengah permintaan hati yang sempat tertunda, lagi-lagi kau barangkali sengaja menundanya kembali. Kesetiaan kembali di uji dengan penantian. Tentang kepastian cinta, yang masih terhalang oleh skat jarak dan waktu.

Beribu makna, dan sederet pertanyaan melingkupi riuh-rendah rasa. Sebuah tanya, yang merindukan secercah jawab. Perihal lubang hati, yang mengajukan rumah sebagai kepulangan.

Bagiku, matamu adalah bunga yang merekah, sebagai sebab aku mengaku kalah. Dan, matamu adalah titik, sebagai simbol pemberhentian.

Aku yang masih tak berdaya soal hati, masih membersamai angin di daratan Surakarta. Angin disini, aku upayakan menjadi do'a, untukmu yang jauh disana. Sebuah do'a, yang aku harap bukan menjadi luka, pada akhirnya.

Wallohu a'lam.
Sukoharjo, 25 Oktober 2019.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...