Skip to main content

Sudahlah (2)


Seandainya mampu dirubah, pasti aku kan memintamu untuk sama sekali tidak hadir dalam perjalananku. Sebuah perjalanan panjang dan melelahkan, yang disertai beraneka ragam kecemasan.

Cemas yang di kemas, dalam sentuhan-sentuhan nafas kerinduan. Namun, rindu itu hanya milik yang satu, yaitu aku, bukan kita. Sedangkan kau, hanya terdiam membisu, menatap wajahku yang lesu, oleh harapanku sendiri.

Aku memang gelandangan cinta, yang berkelana menyusuri hati-hati yang terluka. Oleh karena harapan, yang mengecap dan membentang. Berkelana melewati rimbunan derita, yang sama sekali tidak tersentuh bahagia pada akhirnya.

Lagi-lagi, kau hanya terdiam tanpa suara sekecap pun. Padahal, kau jelas-jelas menatap rasa dihadapanmu, yang dengan terang benderang menaruh harap  yang sekejapmenyelinap.

Apalagi yang harus aku sampaikan kepadamu?. Bertahun-tahun sudah kita jalani, namun sejatinya hanya aku yang menjalani, bukan kita. Entahlah, kau yang dengan mudahnya berpindah hati. Dari hatiku yang kau senyapkan, menuju hatinya yang kau nantikan.

Kalau memang ini yang kau harapkan, seharusnya kau bisa katakan terus terang sebelumnya, tanpa harus terlebih dulu menggores luka atas nama cinta kita. Oh..sudahlah, kau memang hadir bukan sebagai takdir, melainkan sekedar mengisi catatan pilu yang sembilu.

Menyaksikan berpuluh wajah orang, kemudian imajinasiku hanya terkapar, menyaksikan apa yang seharusnya tidak sama sekali kau lakukan. Bunga-bunga harapan tersungkur jatuh, tanpa ia tahu, oleh sebab apa ia luluh.

Dan, seandainya ada waktu untuk kembali, aku akan memilih untuk menepi, dari berbagai misteri yang besar kemungkinan, akan melukai kembali.

Wallohu a’lam.
Sukoharjo, 20 Oktober 2019.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir.  Kalimat itu bukan keluhan individu, melainkan potret sebuah zaman. Suatu kondisi ketika keberadaan yang diukur terutama dari kegunaannya, dan kehidupan yang diukur dari seberapa lancar roda sosial dapat terus berputar. Dalam tatanan seperti ini, berhenti berpikir tidak dianggap perlu, melainkan mengganggu. Masyarakat modern bergerak dengan efisiensi logika. Setiap orang Ditempatkan dalam peran, setiap peran menuntut kinerja, dan setiap kinerja harus terlihat. Pertanyaan tentang makna tidak masuk dalam laporan, tidak tercatat dalam grafik, dan tidak memberi kontribusi langsung pada hasil. Maka berpikir menjadi aktivitas yang tak produktif—sesuatu yang dapat ditunda tanpa konsekuensi yang tampak. Dalam situasi itu, manusia belajar hidup secara fungsional. Bangun tepat waktu, menjalankan tugas, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya keesokan harinya. Kehidupan berjalan sebagai rangkaian prosedur yang sah dan dapat dipertan...