Skip to main content

Apa Ada Angin di Surakarta (4)

Apa Ada Angin di Surakarta (4)

Analogi apalagi yang tepat, untuk sekadar membiasakan dengan biasa, atas segala macam dinamika. 

Hati yang sudah terlanjur njarem, perlu jeda untuk di istirahatkan sejenak, dari perjalanan panjang ekspedisi penuh misteri. 

Bersama riuh-rendah pengunjung kedai, kita sama-sama bisa menyaksikan, berpuluh-puluh hati yang tengah menempuh perjalanan. Ada yang ke arah timur, barat, selatan, dan utara. Pun, juga ada yang masih berkutat di jalan yang sama.

Tenaga dan pikiran sempat di uji, sesaat setelah salah seorang bekas boss, bertanya "sebenarnya topeng manusia itu ada berapa macam?". Perbincangan teoritis sampai romantis, mewarnai pembahasan mengenai personality.

Adu argumen tak terhindari, saling sodor asumsi tak terelakkan, dan sekelumit teori dihidangkan. 

Sampai pada akhirnya, pembicaraan kita sama-sama menyerah, oleh tatapan wanita, yang bajigurnya, kita pun sama-sama belum tahu warna topengnya.

Barangkali, yang kita saksikan tadi itu bukan angin malam, tapi angin topan. Bah!?!

Wallohu a'lam.
Sukoharjo, 23 Oktober 2019.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...