Skip to main content

Aneksasi Hak Privat dan Sublimasi Ngawur


Ruang psikologis macam apa, yang tega menghina diri mereka sendiri. Kalau menghina orang lain (walaupun tetap saja buruk), barangkali masih bisa kita tolerir secara akal sehat.

Menghina diri diatas, kita maksudkan sebagai upaya pembusukan bagi dirinya sendiri. Sebagai contoh misalnya, ada sekelompok orang (baca: karyawan restoran), yang dengan bangga mengatakan "kalau sepi begini enak yah". 

Entah akal dan hati macam apa, yang dengan tega melukai hak-hak yang diimpikan banyak orang, ialah space pekerjaan.

Disatu sisi, kita perlu mengetahui, bahwa yang mengatakan tadi itu adalah orang-orang yang dahulunya terluka oleh keadaan. Mereka adalah orang-orang yang bukan hanya kalah, namun juga terkalahkan oleh sebab "kahanan".

Pada lain sisinya lagi, kita akan menemukan adanya rotasi balas-dendam, oleh karena sakit yang pernah dialami. Berputar dan melingkar layaknya bola, yang tak memiliki kesudahan.

Freud pernah mengatakan, bahwa manusia memiliki defense mechanism, yang salah satunya adalah sublimasi. Adalah suatu kondisi manusia mengubah atau mengganti impuls id dengan cara menyalurkan energi impuls tersebut pada perilaku yang diterima masyarakat.

Ekspresi-eskpresi kelompok pekerja diatas, yang jelas-jelas ngeneki itu, adalah sublimasinya dalam rangka diterima oleh rekan kerjanya. 

Begitu juga yang pernah dikatakan oleh Durkheim, bahwa kekuatan sentimen sosial, kerap lebih memiliki power ketimbang religion.

Barangkali, orang-orang ngeneki macam diatas itu, bukan hanya terjadi dikalangan grass root yang nihil dan defisit sentuhan pendidikan formal, namun juga parahnya acapkali hinggap pada lapisan elite.

Itu semua soal morality yang porak poranda. Maka tak heran, jika term inna ma bu'itstu li utammima makarimal akhlaq, sudah ratusan tahun yang lalu terbit di muka Bumi raya.

Praktek aneksasi terhadap hak, nyatanya dilakukan secara kolaboratif oleh akar rumput dan elite. Tentu angin segarnya, tidak semua orang melakukan praktek aneksasi itu.

Wallohu a'lam.
Sukoharjo, 30 Oktober 2019.




Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir.  Kalimat itu bukan keluhan individu, melainkan potret sebuah zaman. Suatu kondisi ketika keberadaan yang diukur terutama dari kegunaannya, dan kehidupan yang diukur dari seberapa lancar roda sosial dapat terus berputar. Dalam tatanan seperti ini, berhenti berpikir tidak dianggap perlu, melainkan mengganggu. Masyarakat modern bergerak dengan efisiensi logika. Setiap orang Ditempatkan dalam peran, setiap peran menuntut kinerja, dan setiap kinerja harus terlihat. Pertanyaan tentang makna tidak masuk dalam laporan, tidak tercatat dalam grafik, dan tidak memberi kontribusi langsung pada hasil. Maka berpikir menjadi aktivitas yang tak produktif—sesuatu yang dapat ditunda tanpa konsekuensi yang tampak. Dalam situasi itu, manusia belajar hidup secara fungsional. Bangun tepat waktu, menjalankan tugas, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya keesokan harinya. Kehidupan berjalan sebagai rangkaian prosedur yang sah dan dapat dipertan...