Skip to main content

Apa Ada Angin di Surakarta (10)


Selagi masih ada space waktu, lebih baik (kita) bicarakan dengan tatap mata. Supaya, seminimal-minimalnya multi-interpretasi dapat dihindari.

Supaya (kita) mampu menerjemahkan dengan tepat, kerut wajah, kedipan mata, nafas yang keluar-masuk hidung, pipi yang berubah-ubah warna, gerak tangan yang tak beraturan, lekuk kaki yang grogi, dan segala macam ekspresi lainnya.

Tidak hanya soal perbincangan yang akan menghadirkan kejelasan, namun lebih dari itu. Adalah mencipta rentang history yang indah, serta menghadirkan kembali spirit juang untuk tetep survival.

Segala macam bias, bisa terjadi. Jikalau hanya berkutat pada impresi dan persepsi. Sebab disanalah, objektifitas (kita) kaburkan.

(Kita) yang tidak mampu melepaskan semua berkas cerita, terkadang kerap terlena oleh nostalgia. 

Semua yang berkenaan dengan (kita), barangkali akan menjadi warna, bagi masa yang hingar-bingar penuh luka yang paling bahagia.

Apakah masih ada, untuk (kita) menyediakan ruang untuk berterusterang? 
Menyempatkan segala isi dada untuk diungkap?

Agaknya, hanya angin di Surakarta, yang telah terbiasa dengan itu semua.

Wallohu a'lam.
Sukoharjo, 31 Oktober 2019.



Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir.  Kalimat itu bukan keluhan individu, melainkan potret sebuah zaman. Suatu kondisi ketika keberadaan yang diukur terutama dari kegunaannya, dan kehidupan yang diukur dari seberapa lancar roda sosial dapat terus berputar. Dalam tatanan seperti ini, berhenti berpikir tidak dianggap perlu, melainkan mengganggu. Masyarakat modern bergerak dengan efisiensi logika. Setiap orang Ditempatkan dalam peran, setiap peran menuntut kinerja, dan setiap kinerja harus terlihat. Pertanyaan tentang makna tidak masuk dalam laporan, tidak tercatat dalam grafik, dan tidak memberi kontribusi langsung pada hasil. Maka berpikir menjadi aktivitas yang tak produktif—sesuatu yang dapat ditunda tanpa konsekuensi yang tampak. Dalam situasi itu, manusia belajar hidup secara fungsional. Bangun tepat waktu, menjalankan tugas, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya keesokan harinya. Kehidupan berjalan sebagai rangkaian prosedur yang sah dan dapat dipertan...