Skip to main content

Sudahlah (1)


Rentetan perjalanan mengantarkan pada sebuah temu yang berujung pilu. Jadi, waktu itu aku melihatmu tanpa pernah aku tahu sebelumnya, tentang siapa dirimu. Aku yang merindukan pelukan kasih sayang, luluh lantah dalam imajinasiku sendiri. Tentang kecantikan parasmu, yang menyita setiap waktuku.

Tentu ada masa yang menunda, untuk sampai pada kesimpulan kenalan. Sampai pada akhirnya, aku mengetahui namamu, dan sederet kisah kecil tentangmu. Sebuah kisah yang tentunya menjadi benih-benih bekal perjalanan, yang aku duga sebelumnya akan menjadi semacam sinar kegembiraan.

Waktu yang memang terus berjalan, pada saatnya menembus masuk kesempatan. Adalah kesempatanku yang dengan riang menyambut suara lembutmu. Bak, suara embun pagi yang menetes lembut, membasahi daun-daun pagi.

Lagi-lagi, waktu yang memaksa bertemu. Dan aku bayangkan sebelumnya, bahwa itu adalah rasa yang mulai bertumbuh menjadi kisah indah. Akan tetapi, bayangkan terlalu berambisi. Kau hanya menemuiku untuk memberikan sebuah benda, yang katamu “ini buat kenang-kenangan”. Dan benar, itu hanyalah sebuah kenang yang pastinya, akan mengiringi derap tangis mataku berlinang. Sebuah simbol, bahwa kau akan mengakhiri cerita.

Kau pada akhirnya kau berterus terang, saat waktu yang tidak memungkinkanku untuk menerima itu semua. Saat harapan menjadi sebuah langit-langit kebahagiaan, kau menikamku dengan kalimat, “aku sudah menjadi miliknya”.

Ini hanya soal waktu saja, barangkali, yang dengan tega membersamai. Yap, hanya membersamai. Siapa yang bilang aku ini tidak apa-apa? Siapa yang dengan berani mengatakan, aku ini biasa saja? Lalu, untuk apa kau dengan lancar menyelinap ke jantung terdalam perasaan. Sedangkan aku, tersisih dan tersingkir dari kenyataan. Melihat kalimat-kalimat gamblang perpisahan, yang kau balut dengan ribuan makna “akan ada yang lebih baik dariku”.

Harapanku memang kejam, yang tentunya menembus kedalam perasaan. Sedangkan dirimu? Dirimu melenyap dalam senyapnya kerinduan yang aku pupuk sebagai benih-benih kebahagiaan. Berkali-kali, ternyata ini benar-benar bukan kita, akan tetapi hanya aku. Hanya aku yang merindu, bukan dirimu.

Meja-meja, kursi-kursi, gelas-gelas, dan sederet cerita perjalanan, berjejer membisu menyaksikan ceritaku. Sebuah cerita yang hanya diriku yang menikmati, dan hanya diriku yang mengecap getirnya bertepuk sebelah tangan. Namun, entahlah, lagi pula dirimu hanyalah senapan angin yang tidak sama sekali mengharapkan amunisi. Burung yang sama sekali tidak ingin berpulang ke sarang. Lampu-lampu yang tak lagi bercahaya, seperti malam-malam sebelumya. Kegentingan yang jelas-jelas tidak merindui kedamaian. Dan, cinta yang memuja luka.

Memang ini hanya tentang “aku”. Aku yang terpukul kaku, bersama sentilan-sentilan gagu. Semacam rasa yang telah hambar berulang, yang tak lagi mengenal sedikitpun kalimat-kalimat kenang. Seyogyanya, cerita-cerita, canda-canda, dan berbagai hal yang sempat menjadi bunga, harus di kubur di pemakaman massa rasa.

Berjuta-juta nada “seandainya”, kini lenyap sudah. Lengkap sudah, bersama kedalaman fatamorgana. Aku memang lemah dalam soal ini, apalagi jika sudah menembus sampai relung. Kau hadir, itu bukan salahmu. Kau datang itu bukan salahmu. Aku yang salah!.

Aku yang salah. Hanya, aku yang salah sangka. Hanya aku yang terlalu berlebih, mengartikan sebuah perjumpaan. Hanya aku yang berlebih, memaknai sebuah perjalanan.

Dan, semua hancur berkeping, menyesak telak, sesaat kau mengatakan melalui hatimu, bahwa “aku bukanlah pilihanmu”.

Wallohu a’lam.
Sukoharjo, 19 Oktober 2019.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...