Skip to main content

Apa Ada Angin di Surakarta (1)

Apa Ada Angin di Surakarta

Ada canda dan tawa, yang terkelupas menjadi rasa. Perlaha, rasa itu riuh rendah menggores makna. Dengan begitu ringkasnya, waktu menyudahi perjumpaan. Sebuah jumpa, yang akan menjadi histori kita, yang awalnya hanyalah sekedar aku.

Semilir angin sore, beserta sederet percakapan yang menyayat sisi-sisi gelap, kemudiam berubah menjadi hidangan nikmat. Hidangan itu, ternyata bukan sajian kuliner sosialita, namun berjejer buah, yang barangkali akan dipetik bersama.

Dari canda sore, sampai canda senja. Sudah cukup panas rongga mulut, yang ketat melontarkan nostalgia. Bisa jadi, itu hanya milikmu, namun bagiku, itu milik kita.

Sekali lagi, kesan dan pesan, tentu menyelinap masuk diam-diam. Entah menjadi sekedar bumbu kehidupan, atau malah menjadi penentu keputusan. Yang jelas, tetap saja, kita, dan terkhusus diri ini, tidak serta merta ingin menyudahi. Hanya waktu, pada momen itu, yang memaksa peleraian keceriaan. Namun tidak, pada imajinasi yang terus menanti keberlajutan. 

Sore itu, jelas memuat berbagai frasa dalam dada, yang membuncah menjadi kalimat tanya, "apakah ini semacam jeda, atas segala mana bahaya dalam cerita?". Ternyata bukan, lagi-lagi ini adalah kenyataan, yang belum bisa diterima menjadi idealita.

Senja yang singkat, beralih menuju malam yang pekat. Malam yang bukan hanya milik dia, tapi juga milik kita.
Aku menunggumu dalam resah, terkelupas dan berkelindan, bagai secangkir teh yang baru saja di seduh. 

Kamu mengabariku, "tunggu dulu, aku akan kesitu". Dan ternyata, sesingkat itu dia datang dan melempar senyum lugu, pertanda perjalanan kita dimulai kembali. Dengan beragam rasa, serta berjenis-jenis interpretasi. Lontaran canda, cipratan suka duka, menumpuk dan menyatu, tak lagi sanggup dibendung.

Sesampainya dilokasi yang kita tuju, aku menatapmu dari belakang. Barangkali waktu itu, tidak ada subjektifas dalam benak, untuk mencoba memberi konklusi. Bahwa inikah hadiah alam yang dihadiahkan? Entahlah, keramaian orang cukup menghentikan refleksi imajinatif diri ini. Lagi pula, persepsi kemudian memberi sinyalemen, "aku ini siapa?"

Terlihat bersanding berbagai elemen-elemen bahan mentah cerita, yang sudah bisa dipastikan berjuta pula idiom yang mengatasnamakan term "bersama". Term itulah, yang menjadi modalitas berharga, untuk selanjutnya mencipta "suarga rasa". 

Hidup ini kerap drama, dan berimbuh dramatis. Apalagi, yang kita dan orang-orang saksikan pada malam itu adalah pertunjukkan drama "sayembara putri mahkota". Tentu saja, berselingan rasa dan makna dalam dada berupa pertanyaan, "inikah yang disebut sebagai duka lara, yang selanjutnya menjemput bahagia?"

Ada banyak pertanyaan, juga semacam kesimpulan sementara, yang cukup membuat kerut wajah membara. Kemudian muncul tiba-tiba, sejumlah tanya yang bergabung sengkuyung, tentang "apa yang tersembunyi, dibalik bening dua matamu".

Mungkin, dan barangkali ini hanya simbolitas belaka, antara "sayembara meta makna", atau semacam konsorsium perhelatan akbar cerita, beserta energi fiksional, yang mudah-mudahan tidak menemui sesal. Sudahlah, lagi pula "apa ada, angin di Surakarta"?

Wallohu a'lam.
Sukoharjo, 13 Oktober 2019.











Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...