Skip to main content

Pelantikan Senja

Tidak selamanya, sebuah harapan akan menemui kenyataan. Akan sangat berbahaya, apabila hal tersebut terjadi. Sudah barang tentu, alamiah kehidupan akan menuai titik-titik kesenjangan antara apa yang kita sebutkan tadi.

Semua hal, bagian-bagian, dan segala macam sisi kehidupan, akan dan tetap terus berjalan. Waktu adalah kalkulasi perjalanan yang selalu objektif. Waktu tidak pernah mempertimbangkan situasi, apalagi kondisi. Baik sedang baik-baik saja, atau sebaliknya, tidak sedang baik-baik saja, terkhusus pada diri luar maupun diri dalam manusia.

Awalnya, saya termasuk orang yang tidak sependapat dengan term "waktu akan menyembuhkan". Akan tetapi, saat akhir-akhir ini, term tersebut nampaknya ada benarnya. Oleh karena, waktu memiliki ragam dan jenis dalam memberi space bagi jiwa tiap-tiap kita, dalam rangka otomatisasi kesembuhan. Sembuh artinya pernah sakit, dan sakit tidak akan pernah lepas dari kata sembuh.

Problema, atau barangkali yang paling tepat adalah "hal yang kita anggap problema", merupakan something yang integral dalam kenyataan hidup ini. Problema tersebut, kerap menuai berbagai tekanan, sampai bisa menjadikan manusia stress sampai depresi. 

Mekanisme raga dan jiwa manusia, termasuk kita, memiliki auto sembuhnya sendiri. Misalnya, terlukanya jari karena sayatan pisau, atau misalnya, terlukanya hati oleh sebab terkaman pedang perasaan. Akan dengan sendirinya memperoleh simplicity kesembuhan. Tentu ada pengecualian, bagi case yang khusus dan cenderung berat.

Apapun itu, sebaiknya atau lebih tepatnya yang saya anggap baik, ditempatkan pada tempat yang tepat. Namun mirisnya, perihal penempatan juga tidak lepas dari subjektifitas. Apalagi, seandainya kondisi jiwa yang sedang dalam kondisi tidak baik-baik an sich. Sudah barang tentu, pertimbangan akuratifnya benar-benar menuai ujian. 

Segala macam dan jenis ujian yang barangkali pernah membuat jiwa dan raga tersungkur lemah, harus diterima apa adanya. Sambat boleh, bahkan perlu. Namun terus larut dalam kondisi sambat, tidaklah baik. Dalilnya sama dalam setiap kondisi, adalah tidak akan baik apa-apa yang "terlalu".

Di penghujung waktu senja kali ini, tentu harap tidak boleh dimusnahkan. Namun, tidak kemudian kita asal menaruh harap tersebut. Harap yang salah tempat, akan menemui kecewa. Sedangkan harap yang benar tempat, akan menjemput bahagia.

Kebahagiaan adalah muara segala hal yang kita lakukan, apapun profesinya, apapun strata sosialnya. Untuk meraih bahagia tersebut, tidak kemudian menghalalkan, apalagi mengharamkan berbagai strategi dan method-nya. 

Salah satu strategi dan method, yang paling mendekati benar, hemat saya adalah "sadar atas posisi". Dengan sadar siapa terhadap posisi kita sesungguhnya, akan mengantarkan pada akurasi yang tajam, untuk me-rasa, berfikir, dan bertindak.

Mari kita lantik diri kita sendiri, setiap saat. Lantik berarti ceremony, ikrar, janji, pernyataan gamblang untuk menjadi apa yang sesungguhnya dapat kita lakukan, tentunya dengan berbekal menerima apa adanya, dalam hal self position.

Wallohu a'lam.
Sukoharjo, 20 Oktober 2019.





Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir.  Kalimat itu bukan keluhan individu, melainkan potret sebuah zaman. Suatu kondisi ketika keberadaan yang diukur terutama dari kegunaannya, dan kehidupan yang diukur dari seberapa lancar roda sosial dapat terus berputar. Dalam tatanan seperti ini, berhenti berpikir tidak dianggap perlu, melainkan mengganggu. Masyarakat modern bergerak dengan efisiensi logika. Setiap orang Ditempatkan dalam peran, setiap peran menuntut kinerja, dan setiap kinerja harus terlihat. Pertanyaan tentang makna tidak masuk dalam laporan, tidak tercatat dalam grafik, dan tidak memberi kontribusi langsung pada hasil. Maka berpikir menjadi aktivitas yang tak produktif—sesuatu yang dapat ditunda tanpa konsekuensi yang tampak. Dalam situasi itu, manusia belajar hidup secara fungsional. Bangun tepat waktu, menjalankan tugas, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya keesokan harinya. Kehidupan berjalan sebagai rangkaian prosedur yang sah dan dapat dipertan...