Skip to main content

(kita) yang mana?

Menyerah bukan berarti kalah. Menyerah acapkali justru merupakan pilihan terbaik. (Kita) semua berhak untuk memberi penilaian terhadap diksi menyerah diatas. Bebas lepas memberi konotasi, dan free seporete menaruh persepsi terhadap menyerah itu.

Rimbunan derita, yang bercampur dengan suka-cita, akan selalu memberi sebuah konklusi. Se reliable-reliablenya teori, tetap saja itu hanyalah teori. Sekali lagi, itu "hanyalah". Begitu pula, apa yang ter-denotasikan pada kata "menyerah" tadi.

Terlempar dari kubangan sentimen sosial yang mainstream, tentu bukan hal yang baru. Bukan lagi satu atau dua kali, akan tetapi berjibun, tersusun dalam perbendaharaan tribun memory.

Resonansi kerap mengarah dan kemudian ber-impact terhadap disonansi. Harmoni yang di ingini, sesekali bahkan berkali-kali runtuh dari map batin. Exercise semacam itu, terkadang menguatkan, namun tidak menutup probability keterpurukan.

Yang jelas, ada atau tidaknya "ada" tersebut, terkadang perlu ditempatkan pada space bodoamat. Bukan karena bodoamat dalam arti umum, namun (kita) wajib sadar akan limitasi akal dan hati, pikiran dan perasaan.

Menyerah itu mempunyai hak opsional, layaknya duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Sama dengan hak memilih dan dipilih. Kerap kali (kita) gagu dalam menentukan, antara memilih untuk menyerah atau memilih untuk tetap melangkah. Keduanya, sama sekali bukan masuk dalam ketegori "kalah". Ini berlaku dalam semua hal, alias universal.

Repotnya, (kita) lebih terkendalikan oleh id/subconscious, yang memiliki dorongan dan desakam, dengan power yang tiada tara. 

Lalu, (kita) yang mana?


Wallohu a'lam.
Sukoharjo, 29 Oktober 2019.






Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...