Skip to main content

Apa Ada Angin di Surakarta (6)

Apa Ada Angin di Surakarta (6)

Sepenuhnya, dan pastinya, sudah barang tentu tidak semuanya, hal-hal yang berkaitan dengan "kita" akan di ungkap. Ada kran yang tidak boleh semuanya di buka, sebab alasan-alasan tertentu.

Terdapat pesan yang seharusnya tersampaikan, namun oleh karena ruang itu sudah kau tutup, maka apa daya. Kau lebih memilihnya, yang entah karena apa, yang entah alasan apa.

Selebihnya, aku sendiri memilih membiarkan waktu berjalan apa adanya. Sambil menuntas-bersihkan, berbagai rasa yang pernah ada.

Setidanya, dengan kalimat-kalimat, canda-canda, serta perjumpaan yang pernah kita rangkai bersama, dapat menjadi kenang yang menggenang. Sebuah kenang, yang harapannya tidak akan pernah menjadi duka yang berlinang.

Senyap dalam pekat, beserta angin kecil yang lewat dari pelupuk mata, barangkali menjadi pertanda, apabila serangkaian kisah-kasih ini, tidak akan pernah ada.

Brengseknya, lintasan pikir milikku ini, kerap terlintas wajahmu, tapi lebih tepatnya lintas cantikmu.

Badalah!?!
Angin di Surakarta, resonansinya membual saja.

Wallohu a'lam.
Sukoharjo, 26 Oktober 2019.




Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...