Skip to main content

Rebahan Psikologis

Ada banyak sekali aktifitas yang kita lalui. Dalam sehari, barangkali, terdapat dua sampai tiga lebih, jenis aktifitas. Keterlibatan fisik dan psikis dalam rentetan aktifitas, kadangkala membuat jenuh, bahkan sampai-sampai ada yang frustasi. 

Belum lama ini, kita, terutama yang beredar dalam jagat maya milenial, mendapati term "rebahan". Ketika saya mencoba melakukan searching melalui mesin pencarian google, saya mendapati terminologi rebahan, berasal dari kata rebah, yang artinya bergerak dr posisi berdiri ke posisi jatuh dan terbaring.

Rebahan pada makna yang lebih lengkap, hemat saya, adalah sebuah situasi dimana, orang beristirahat dengan cara berbaring. 

Istirahat dalam pemahaman yang universal, adalah posisi rehat dari segala aktifitas. Umumnya, orang melakukan rebahan pada malam hari. Namun beberapa kasus juga, bahwa rebahan dilakukan oleh mereka pada siang hari, tersebab oleh aktifitasnya pada malam hari. Jadi ada pergantian jadwal, dalam siklus aktifitasnya.

Dalam narasi pendek ini, saya mencoba memberikan semacam abstraksi terkait rebahan ini. Maksud saya, ada sisi lain yang terdapat dalam sudut pandang rebahan. Perlu seminimal-minimalnya, untuk kemudian kita ambil bagian uniknya.

Rebahan yang mengandung arti berbaring, kemudian substansinya adalah istirahat, memberi peluang dan kesempatan bagi pelakunya untuk mengistirahatkan fisik, tak terkecuali psikisnya.

Dalam paradigma dualisme, fisik dan psikis memiliki keterkaitan yang berkelindan. Bisa dikatakan integratif. Segala macam dan jenis aktifitas membutuhkan, ruang dan waktu untuk di delay, dan di istirahatkan.

Rebahan sangat diperlukan, dalam rangka memberi hak tubuh untuk beristirahat. Tubuh yang lelah, akan berpengaruh terhadap psikis yang lelah. Begitu juga sebaliknya, psikis yang lelah memberikan variable independen terhadap fisik yang lelah. Jadi, fisik dan psikis, sama-sama memiliki posisi yang equal untuk di istirahatkan.

Berkaitan dengan aktifitas, kita juga mengenal istilah aktifitas yang produktif, dan disatu sisi ada aktifitas yang tidak produktif. Sederhananya, aktifitas yang produktif berarti efektif dan efisien. Sesuai tujuan dan tepat waktu.

Akan tetapi, hal tersebut dapat terjadi kemandegan atau tersendat. Apabila kita melupakan rebahan. Dan, tidak kalah pentingnya, ada kreasi dalam aktifitas, yang memiliki posisi strategis dalam gerak langkah. Maka, untuk menumbuhkembangkan kreasi, kita butuh rekreasi. 

Dalam rekreasi, esensinya adalah refresh. Entah dengan apa refresh itu dilakukan. Namun, refresh yang paling murah, kongkret, dan efektif adalah rebahan itu sendiri.

Dalam rebahan, kita dapat menemui banyak hal. Terutama soal mimpi-mimpi yang kerap kita temui. Rebahan memberi space untuk menampung energi dan me-recharge semangat.

Sekali lagi, jangan lupa rebahan. Badan dan jiwamu juga punya hak untuk diperhatikan. Karena bukan hanya fisik yang memiliki hak istirahat, namun ada pula rindu yang lelah untuk sesegera menjemput rebah. 

Wallohu a'lam.
Sukoharjo, 9 Oktober 2019.




Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir.  Kalimat itu bukan keluhan individu, melainkan potret sebuah zaman. Suatu kondisi ketika keberadaan yang diukur terutama dari kegunaannya, dan kehidupan yang diukur dari seberapa lancar roda sosial dapat terus berputar. Dalam tatanan seperti ini, berhenti berpikir tidak dianggap perlu, melainkan mengganggu. Masyarakat modern bergerak dengan efisiensi logika. Setiap orang Ditempatkan dalam peran, setiap peran menuntut kinerja, dan setiap kinerja harus terlihat. Pertanyaan tentang makna tidak masuk dalam laporan, tidak tercatat dalam grafik, dan tidak memberi kontribusi langsung pada hasil. Maka berpikir menjadi aktivitas yang tak produktif—sesuatu yang dapat ditunda tanpa konsekuensi yang tampak. Dalam situasi itu, manusia belajar hidup secara fungsional. Bangun tepat waktu, menjalankan tugas, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya keesokan harinya. Kehidupan berjalan sebagai rangkaian prosedur yang sah dan dapat dipertan...