Skip to main content

Apa Ada Angin di Surakarta (8)

Jarak yang membentang, antara Solo dan Yogya, memberi sebuah imaji, akan luka-luka yang sempat tergores. 

Tentang sederet-berderet nama, yang sempat mengisi kemudian pergi. Sederet-berderet cerita, yang sempat datang kemudian pulang.

Ruang-ruang hampa perjalanan, memberi space bagi seluruh sudut relung hati untuk terisi oleh angin-angin yang berjejer. Angin yang merayap dalam keramaian yang paling sepi.

Jarak yang membentang, antara misteri, ilusi, dan kronologi, menaruh secercah anxiety bagi dada. Kelapangan dada beserta sekaliber experience-nya, membuka jendela imaji yang benar-benar baru. 

Jendela imaji yang memendam sejuta kenang, yang disisipi oleh history map ruang, konteks, dan waktu. 

Rindu memang berjodoh dengan temu, dan harap hanya match dengan nyata. Pertemuan dan kenyataan yang paling meluka, tentunya sempat menemu ceria. Walau pada akhirnya, tidak selalu bahagia.

Berjilid-jilid kenang, kini menggenang. Bercatat-catat luka, kini menganga. Betapapun kenang dan lukanya, tetap saja angin membelai suka cita lembaran barunya.

Antara Solo dan Yogya, ternyata masih ada (kita), yang dahulu sempat merangkai cita, lalu (kita) lenyapkan semuanya.

Sementara, (kita) kerap tertidur dalam resahnya, angin di Surakarta.

Wallohu a'lam.
Sukoharjo, 29 Oktober 2019.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...