Skip to main content

Apa Ada Angin di Surakarta (49)

Akan selalu ada pergeseran makna, pada tiap-tiap peristiwa. Entah itu yang mikro, mezo, maupun makro. Baik itu yang itu, atau ini yang ini. Bisa jadi, ini jadi itu. Pun, tak menutup kemungkinan, bahwa yang itu menjadi ini.

Pria-pria disana pun tertawa, dengan apa yang mungkin sempat menggelitik jiwanya. Begitu pula wanita-wanita disana, tak mau absen dari humor abad 21-nya.

Semuanya berkumpul, menjadi sebuah skema romantic dalam kelasnya. Bisa struktur, bisa pula kultur. Bisa tradisi, bisa pula kebudayaan. 

Barangkali, kita sama-sama sempat terkalahkan oleh detak dan nafas sang waktu, yang terus melaju. Yang dengan arogan, menerjang tiap-tiap penggalan reasoning akal pikiran masing-masing kita. Pun, pada semua imaji fiksional yang baru saja terskema.

Apapun itu, lihatlah..
Betapa riuh-rendahnya alam ini berjalan. Betapa ringkas dan panjangnya, hembusan nafas seluruh elemen. 

Dan, kalaupun semua cita dan cinta kemanusiaan sempat ter-delay, sebenarnya itu hanya balutan semesta, yang tak sekalipun absen membersamai. Terutama, semuanya tetap saja menaruh bercak arah "apa ada angin di Surakarta".

Wallohu a'lam.
Sukoharjo, 6 Januari 2019.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...