Skip to main content

Initial Noting: Kuda-Kuda Sambat.

Terpaksa, saya harus optimis. Walaupun perakalan dan perhatian saya, terus nggurut untuk pesimis.

Saya menyadari dengan sepenuhnya, bahwa seluruh jenis pilihan, selalu ada konsekuensinya. 

Jadi, kalau tidak minus ya pasti plus. Bila tidak negatif ya positif. Misal tidak yes, ya berarti no. Dan seterusnya, sampai modar.

Cemas, gelisah, gundah, dan segala jenis dan macam keresahan, itu normal-normal saja. Wong saya dan kita, sama-sama punya hati, punya akal. Tapi, kalau larut, ya perlu diajukan ke konselor, psikolog, kalau perlu pak kyai setempat, untuk di refresh.

Menghadapi situasi yang tidak mengenakan pada batin, manusia-manusia banyak metodenya, pun ragam approach-nya.

Ada yang dzikir, ngalamun, ngopi, ngrokok, pura-pura bercanda, bikin story WA, dan seterusnya. Semua itu, boleh-boleh saja, toh tidak melanggar UUD '45, PERPU, PERDA, dan sejenisnya. Pun tidak dilarang oleh Agama. Asalkan tak kelewat batasnya.

Optimisme itu memang harus, tapi juga perlu diperhatikan kadarnya. Kalau kelewat optimis, bisa jadi sombong. Jika terlampau pesimisi, bisa mewujud putus asa.

Untuk memastikan indikator kadar keoptimisan ini, saya kira belum ada instrumen yang valid maupun reliable. Akan tetapi, masing-masing kita toh punya "kuda-kuda" yang unik pada masing-masing diri.

Kuda-kuda ini, adalah "ilmu Ngelmu iku kalakone kanthi laku". Maksud saya, ilmu itu bisa dipahami/ dikuasai harus dengan cara, cara pencapaiannya dengan cara kas, artinya kas berusaha keras memperkokoh karakter, kokohnya budi (karakter).

Sebenarnya, tulisan ini tak akan berhenti sampai disini, kapan-kapan kita lanjutkan di kesempatan sambat lainnya.

Wallohu a'lam.
Yogyakarta, 27 Januari 2020.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...